BANTUL (MAN 1 Bantul) – Menjelang babak penentuan masa depan melalui Ujian Madrasah (UMAD) dan seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), siswa kelas FL 3 MAN 1 Bantul memilih jalur yang berbeda untuk memantapkan diri. Tidak hanya berkutat dengan buku, mereka melakukan “ikhtiar langit” melalui kegiatan bakti sosial yang menyentuh hati di Panti Asuhan Bina Siwi, Komplek Balai Desa Sendangsari, Pajangan, Bantul, pada Senin (23/2/2026).
Kegiatan bertajuk “Ketuk Pintu Langit” ini menjadi momentum bagi para siswa untuk menyeimbangkan usaha lahiriah dengan penguatan spiritual. Program ini dirancang untuk mengasah empati sekaligus memohon doa restu dari para penghuni panti demi kelancaran ujian dan proses transisi menuju dunia kerja bagi siswa lainnya.
Inspirasi dari Kemandirian Tanpa Batas
Panti Bina Siwi saat ini menjadi rumah bagi 40 lebih penyandang disabilitas (tunarungu, tunawicara, dan lainnya). Meski mayoritas sudah tidak memiliki orang tua, semangat yang terpancar dari wajah mereka memberikan pelajaran hidup yang mendalam bagi siswa MAN 1 Bantul.
Di balik keterbatasannya, para penghuni panti menunjukkan produktivitas yang luar biasa. Mereka dibekali berbagai keterampilan, mulai dari menjahit, membatik, hingga memproduksi sandal hotel yang kini telah menembus pasar perhotelan di Yogyakarta.
Kehadiran siswa FL 3 disambut dengan penuh kehangatan melalui pertunjukan seni yang memukau. Alunan angklung yang harmonis, tarian, dan nyanyian dari anak-anak panti menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya. Bahkan, di hari yang sama, sebagian penghuni panti tengah memenuhi undangan pentas seni di wilayah Yogyakarta.
Pesan Kemanusiaan dan Harapan
Wali Kelas FL 3 menyampaikan rasa bangganya atas inisiatif dan antusiasme para siswa dalam berinteraksi langsung dengan teman-teman di Bina Siwi.
“Kami berharap, melalui doa bersama teman-teman di Bina Siwi, jalan anak-anak menuju kampus impian atau dunia kerja diberikan keberkahan. Lebih dari itu, semoga kegiatan ini membentuk karakter mereka menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan peka terhadap sesama,” ungkapnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Madrasah MAN 1 Bantul memberikan apresiasi tinggi terhadap program penguatan karakter ini. Menurutnya, pendidikan sejati adalah tentang kematangan jiwa.
“Dengan ‘mengetuk pintu langit’, siswa belajar arti juang dan syukur dari teman-teman disabilitas yang mandiri. Semoga keberkahan doa mereka mengiringi langkah siswa FL 3 meraih cita-citanya,” tutur Kepala Madrasah.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama yang berlangsung khidmat, menyisakan kesan mendalam bagi kedua belah pihak tentang arti kebersamaan dan saling menguatkan di tengah perjuangan hidup. (dryh)

