Bantul (MAN 1 Bantul) – Suasana kelas FL 7 pada Senin (9/2/2026) tampak berbeda dari biasanya. Dalam pembelajaran Sosiologi, siswa diajak mengenal dan memahami kearifan lokal melalui keanekaragaman makanan tradisional Nusantara. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang kontekstual dan menyenangkan karena siswa tidak hanya berdiskusi, tetapi juga mengamati langsung berbagai jenis makanan tradisional yang dibawa ke kelas.
Beragam makanan khas daerah tersaji di meja kelas, di antaranya gethuk, tempe benguk, bakpia, cenil, lemper, arem-arem, bakmi pentil, olahan daun meniran, lemet, nagasari, dan masih banyak lagi. Setiap kelompok siswa mendapat kesempatan untuk mempresentasikan asal-usul, bahan dasar, proses pembuatan, serta nilai sosial dan budaya yang terkandung dalam makanan tersebut.
Pembelajaran ini bertujuan untuk menanamkan pemahaman bahwa makanan tradisional bukan sekadar konsumsi, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan warisan leluhur yang sarat makna. Misalnya, gethuk dan cenil yang berbahan dasar singkong mencerminkan kearifan masyarakat dalam memanfaatkan hasil bumi lokal. Tempe benguk menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan alternatif. Sementara bakpia yang kini menjadi ikon Yogyakarta menggambarkan proses akulturasi budaya yang telah berlangsung sejak lama.
Melalui diskusi interaktif, siswa juga diajak menganalisis tantangan pelestarian makanan tradisional di tengah arus globalisasi dan maraknya makanan cepat saji. Banyak siswa menyampaikan pendapat bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi kuliner tradisional, salah satunya dengan mengenal, mengonsumsi, dan mempromosikannya melalui media sosial.
Kegiatan pembelajaran berlangsung aktif dan penuh antusias. Siswa tidak hanya belajar konsep kearifan lokal secara teori, tetapi juga merasakan langsung nilai kebersamaan, gotong royong, serta rasa syukur atas kekayaan budaya bangsa.
Kepala madrasah, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasinya terhadap pembelajaran kreatif tersebut. Mafrudah menuturkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi dan tag line madrasah, yakni MAN 1 Bantul CADAS BERKELAS: cerdas, agamis, demokratis, adaptif, smart, berkarakter, cinta lingkungan, dan anti diskriminasi.
“Melalui pembelajaran seperti ini, siswa tidak hanya menjadi cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, menghargai keberagaman budaya, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan dan kearifan lokal. Inilah wujud nyata pendidikan yang berkelas dan berkarakter,” ungkapnya.
Mafrudah juga menambahkan bahwa pelestarian makanan tradisional merupakan bagian dari sikap adaptif dan cinta tanah air. “Di tengah arus modernisasi, siswa harus tetap bangga terhadap budaya sendiri. Sikap inilah yang membentuk generasi yang berkarakter, inklusif, serta menghargai perbedaan,” tambahnya.
Melalui pembelajaran berbasis pengalaman ini, diharapkan siswa FL 7 semakin mencintai budaya lokal serta mampu melihat kearifan lokal sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat, sekaligus merefleksikan nilai-nilai MAN 1 Bantul CADAS BERKELAS dalam kehidupan sehari-hari. (mda)

