Bantul (MAN 1 Bantul) – Rangkaian Studi Budaya MAN 1 Bantul membawa 102 siswa kelas XI memasuki “lorong waktu” saat mengunjungi Museum Geologi Bandung pada Kamis (2/4/2026) pukul 13.30 hingga 15.30 WIB. Kunjungan ini menjadi momen krusial bagi para siswa untuk melakukan sinkronisasi data antara teori yang mereka pelajari di bangku kelas X dengan bukti fisik sejarah yang tersaji secara nyata di ruang pameran museum.
Memasuki ruang pameran zaman prasejarah, para siswa tampak antusias mengamati koleksi fosil yang terpajang rapi. Di ruang ini, mereka disuguhi temuan autentik mulai dari fosil manusia purba, kerang-kerangan purba, hingga sisa-sisa fauna purba seperti buaya dan fragmen gigi gajah purba. Tidak hanya itu, deretan artefak batu, alat-alat serpih, serta replika raksasa dinosaurus menjadi pusat perhatian yang menghidupkan kembali imajinasi siswa tentang kondisi bumi ribuan tahun silam.

Kunjungan ini terasa sangat relevan bagi siswa kelas XI karena materi yang tersaji di museum merupakan kelanjutan nyata dari pelajaran Asal-Usul Nenek Moyang yang telah mereka tempuh saat di kelas X. Di museum ini, istilah-istilah seperti Homo Neanderthal, Homo Erectus, dan Homo Floresiensis yang sebelumnya hanya mereka lihat dalam buku teks, kini hadir dalam bentuk replika tengkorak dan fosil asli. Pengalaman ini membantu siswa memvalidasi pemahaman mereka tentang evolusi manusia, persebaran fosil, dan cara hidup manusia purba secara lebih konkret.
Kegiatan eksplorasi sejarah ini menjadi bagian penting dalam memperkuat nilai CADAS BERKELAS. Dengan meneliti artefak dan fosil, siswa dilatih menjadi pribadi yang Cerdas dan Smart dalam menganalisis data sejarah. Selain itu, memahami sejarah penciptaan bumi menumbuhkan rasa Agamis melalui kekaguman terhadap kekuasaan Sang Pencipta, serta membentuk karakter yang Adaptif, Demokratis, dan Cinta Lingkungan dengan belajar dari kegagalan spesies masa lalu agar tetap menjaga kelestarian alam saat ini tanpa adanya Anti Diskriminasi dalam memandang asal-usul manusia.
Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., memberikan apresiasi atas kedalaman rasa ingin tahu para siswanya selama berada di museum. Mafrudah menekankan bahwa kunjungan ini adalah bentuk pembelajaran kontekstual yang paling efektif. “Sangat membanggakan melihat anak-anak mampu menghubungkan kembali ingatan mereka tentang pelajaran di kelas X dengan apa yang mereka lihat hari ini. Inilah esensi belajar yang sebenarnya; ketika teori bertemu dengan bukti nyata, ilmu itu akan menetap lebih lama di ingatan mereka,” tutur Mafrudah dengan penuh rasa syukur.
Dengan berakhirnya kunjungan di Museum Geologi, para siswa diharapkan membawa pulang pemahaman sejarah yang lebih utuh dan objektif. Bekal pengetahuan ini menjadi modal berharga bagi mereka untuk terus berpikir kritis dan menghargai warisan budaya serta alam nusantara. Semangat literasi sejarah ini akan terus dipupuk demi mewujudkan generasi MAN 1 Bantul yang senantiasa CADAS BERKELAS. (ars)

