BANTUL (MAN 1 Bantul) – Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Bantul menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila dengan khidmat pada Senin (1/6/2026). Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan ini tidak hanya menjadi momentum refleksi internal, tetapi juga menjadi panggung penegasan komitmen madrasah dalam mendukung perdamaian dunia.
Dalam amanatnya, Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan bahwa Pancasila bukan sekadar teks sejarah, melainkan fondasi kokoh dan panduan moral bagi bangsa Indonesia, khususnya dalam menjaga ketertiban dan perdamaian global.
“Kelima sila dalam Pancasila secara langsung menentang segala bentuk penjajahan di atas dunia, mendorong kesetaraan antarbangsa, serta selalu mengedepankan musyawarah untuk mufakat. Hal inilah yang menjadikannya prinsip utama dalam politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif,” ujarnya.
Melalui momentum ini, MAN 1 Bantul mengajak seluruh warga madrasah untuk menginternalisasi nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai lembaga pendidikan, madrasah memiliki peran strategis untuk mencetak generasi muda yang toleran, humanis, dan peduli terhadap isu-isu kemanusiaan global.
Berikut adalah poin-poin utama penekanan nilai Pancasila yang disampaikan dalam upacara:
Sila ke-1 dan ke-2: Membangun rasa kemanusiaan yang adil dan beradab demi terciptanya solidaritas internasional tanpa memandang perbedaan agama dan suku bangsa. Sila ke-3 dan ke-4: Mengutamakan diplomasi, musyawarah, dan menolak segala bentuk kekerasan atau hegemoni dalam menyelesaikan konflik. Sila ke-5: Mendorong keadilan sosial yang merata, termasuk hak setiap bangsa untuk merdeka dan berdaulat.
Pelaksanaan upacara yang sarat akan pesan perdamaian ini mendapat respons positif dari berbagai elemen di MAN 1 Bantul. Guru PPKn, Etik Rahmawati, S.Pd., menegaskan bahwa Pancasila adalah pemersatu bangsa dan dunia.
“Pancasila adalah pemersatu kita, dan relevansinya terhadap perdamaian dunia sangat kuat. Sebagai guru, tugas kami bukan hanya meminta siswa menghafal silanya, tetapi menanamkan esensinya. Upacara hari ini menjadi pengingat bahwa konflik global di luar sana adalah urusan kemanusiaan kita bersama. Kita mendidik siswa agar kelak bisa menjadi agen perdamaian, minimal di lingkungan mereka sendiri,” terang Etik.
Sementara itu, Staf Tata Usaha, Soegiyat, menanggapi positif bahwa mengamalkan nilai Pancasila berarti mengamalkan nilai keadilan. “Semangat kemanusiaan dan kesetaraan yang ada dalam Pancasila sangat terasa dalam atmosfer kerja kami hari ini. Peringatan ini menegaskan bahwa pelayanan yang kami berikan di madrasah juga didasari oleh nilai keadilan sosial. Semoga pesan perdamaian yang digaungkan hari ini bisa menular ke masyarakat luas,” ungkap Soegiyat dengan nada serius.
Respons positif juga datang dari kalangan siswa, Fauzia Nur Hasana, Kelas XI FD 1. Dengan lugas ia mengatakan, “Jujur, upacara kali ini terasa berbeda karena kami diingatkan kalau Pancasila itu punya dampak besar, bahkan untuk dunia internasional. Menolak penjajahan dan mendukung kesetaraan antarbangsa bikin kami sadar kalau sebagai pelajar, kami harus melek isu global. Kami di OSIM berkomitmen untuk terus mengampanyekan sikap toleransi dan anti-perundungan (anti-bullying) di sekolah sebagai bentuk nyata pengamalan Pancasila.”
Upacara yang berlangsung dengan tertib ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa Indonesia serta terciptanya perdamaian di wilayah-wilayah dunia yang saat ini masih dilanda konflik. Dengan semangat Hari Lahir Pancasila, MAN 1 Bantul siap terus berkontribusi melahirkan generasi “Ahlul Jannah” yang berwawasan global dan berkepribadian Pancasila. Ini tentunya sejalan dengan tagline MAN 1 Bantul yang sedang gencar disosialisasikan: CADAS BERKELAS (Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi). (chr)

