Mengenal Alam, Menumbuhkan Kepedulian: Pembelajaran KBC Berbasis Ekoteologi di MAN 1 Bantul

Bantul (MAN 1 Bantul) — Mengenal alam menjadi salah satu cara menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Semangat tersebut diwujudkan MAN 1 Bantul melalui pembelajaran berbasis Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan mengintegrasikan nilai Ekoteologi, khususnya Cinta Lingkungan. Murid kelas X diajak mengamati berbagai tanaman yang tumbuh di lingkungan madrasah sebagai bagian dari proses belajar sekaligus membangun kesadaran untuk menjaga lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, murid melakukan pengamatan langsung terhadap tanaman yang berada di berbagai sudut MAN 1 Bantul. Mereka mengenali objek yang diamati, mencatat karakteristik dan informasi penting, serta mendokumentasikan hasil pengamatan. Temuan tersebut kemudian diolah menjadi Laporan Hasil Observasi (LHO) dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang dibimbing oleh Siti Maryam, S.Pd.

Kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan murid. Lingkungan madrasah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga menjadi ruang belajar yang memungkinkan murid berinteraksi secara langsung dengan alam. Dari kegiatan sederhana mengamati tanaman, murid diajak menyadari bahwa lingkungan di sekitar mereka memiliki nilai, manfaat, dan keberadaan yang perlu dihargai.

Integrasi Ekoteologi memberikan dimensi yang lebih mendalam dalam kegiatan tersebut. Alam tidak sekadar dipandang sebagai objek pengamatan, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga dan dirawat. Kesadaran tersebut diharapkan tumbuh menjadi sikap bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk memelihara lingkungan sebagai bagian dari kehidupan yang diberikan Allah Swt.

Siti Maryam, S.Pd., menyampaikan bahwa pembelajaran dengan memanfaatkan lingkungan madrasah memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara nyata. “Murid tidak hanya belajar bagaimana menyusun laporan berdasarkan fakta, tetapi juga belajar mengenal lingkungan dan memahami pentingnya menjaga apa yang ada di sekitarnya,” tuturnya.

Pembelajaran tersebut sekaligus menjadi salah satu bentuk penerapan Panca Cinta dalam KBC, yaitu Cinta Lingkungan. Nilai cinta tidak berhenti pada pemahaman secara konseptual, tetapi diwujudkan melalui aktivitas mengenali, mengamati, memahami, dan menghargai lingkungan. Dengan demikian, proses pembelajaran diarahkan untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam.

Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., mendukung penguatan nilai cinta lingkungan melalui berbagai aktivitas madrasah. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan perlu dibangun melalui pembiasaan dan pengalaman nyata agar menjadi bagian dari karakter murid.

“Cinta lingkungan perlu ditumbuhkan dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan murid. Ketika mereka mengenal dan memahami lingkungan di sekitarnya, diharapkan tumbuh kesadaran untuk menjaga dan merawatnya,” ungkap Mafrudah.

Penguatan Ekoteologi melalui pembelajaran juga menjadi bagian dari langkah MAN 1 Bantul dalam merintis budaya Adiwiyata dan Ekoteologi. Nilai kepedulian lingkungan diupayakan tidak hanya hadir dalam kegiatan khusus, tetapi terintegrasi dalam berbagai aktivitas madrasah, termasuk pembelajaran di kelas.

Melalui kegiatan ini, murid belajar bahwa Cinta Lingkungan bukan sekadar slogan, melainkan sikap yang perlu diwujudkan dalam tindakan. Mengenal tanaman, memahami manfaatnya, menjaga kebersihan lingkungan, dan merawat keberadaan makhluk hidup menjadi langkah sederhana untuk membangun karakter peduli terhadap alam.

Pembelajaran KBC berbasis Ekoteologi di MAN 1 Bantul pun menjadi sebuah perjalanan dari mengenal alam menuju menumbuhkan kepedulian. Dari lingkungan madrasah, murid belajar membaca tanda-tanda kehidupan; dari proses pengamatan, mereka belajar memahami; dan dari pemahaman tersebut, diharapkan tumbuh kesadaran untuk turut menjaga bumi sebagai bagian dari tanggung jawab manusia kepada Sang Pencipta.