MGMP Sejarah MA DIY Perdalam Keunikan Revolusi Kemerdekaan di Kulon Progo 1948–1949

Bantul (MAN 1 Bantul) – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Madrasah Aliyah (MA) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan pengembangan profesionalisme dan kompetensi guru Sejarah. (15/09/2026). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai tersebut bertempat di Cagar Budaya Kulon Progo, Ngentak, Pengasih, Kulon Progo, Yogyakarta.

Kegiatan MGMP menghadirkan Dr. Ahmad Atthoillah, S.Pd., M.A., dosen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai narasumber. Materi yang disampaikan mengangkat tema “Pola Keunikan Revolusi Kemerdekaan di Kulon Progo 1948–1949”. Dalam pemaparannya, Ahmad Atthoillah mengajak para guru sejarah untuk melihat Revolusi Kemerdekaan tidak hanya melalui narasi sejarah nasional, tetapi juga melalui dinamika perjuangan yang terjadi di tingkat lokal. Kulon Progo memiliki konteks dan pengalaman sejarah tersendiri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada masa revolusi fisik.

Pembahasan sejarah lokal tersebut memberikan perspektif kepada guru mengenai pentingnya mengaitkan peristiwa nasional dengan sejarah daerah. Dengan demikian, pembelajaran sejarah di madrasah dapat menjadi lebih kontekstual karena peserta didik diajak memahami bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga berlangsung di lingkungan masyarakat sekitar mereka.

Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag, M.Pd.I menyampaikan bahwa keikutsertaan guru dalam forum MGMP merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan kompetensi dan kualitas pembelajaran. Pembelajaran sejarah akan semakin bermakna ketika guru mampu menghadirkan sejarah lokal sebagai bagian dari sejarah nasional. Kegiatan MGMP seperti ini memberikan kesempatan kepada guru untuk memperluas wawasan sekaligus memperoleh sumber belajar yang lebih kontekstual bagi peserta didik.

Melalui kegiatan MGMP ini, para guru memperoleh tambahan wawasan mengenai sejarah lokal, khususnya dinamika Revolusi Kemerdekaan di Kulon Progo. Materi tersebut juga dapat menjadi sumber pengayaan dalam pembelajaran Sejarah Indonesia, terutama untuk menumbuhkan kesadaran peserta didik terhadap nilai perjuangan, kepahlawanan, nasionalisme, serta keterkaitan antara sejarah lokal dan sejarah nasional. Hal ini sejalan dengan semangat Madrasah CADAS BERKELAS (Cerdas, Agamis, Demokratis, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, Anti Diskriminasi. (Dw)