Bantul (MAN 1 Bantul)– Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat di ruang Kepala MAN 1 Bantul, Rabu( 11/03/2026). Bukan hanya untuk menerima penghargaan, lima siswa kelas program keterampilan otomotif yang baru saja meraih predikat terbaik dalam uji kompetensi di AHASS Bambanglipuro justru diajak duduk melingkar. Mereka berdiskusi santai namun mendalam dengan Kepala Madrasah, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I, serta didampingi oleh guru produktif otomotif, guna mendapatkan penguatan mental (mental building).
Pertemuan yang berlangsung selama lebih dari satu jam tersebut sengaja digagas untuk memperkuat fondasi mental para siswa. Setelah membuktikan keunggulan di bidang teknis otomotif, madrasah ingin memastikan bahwa para siswa juga memiliki ketangguhan mental, sikap profesional, dan daya juang yang tinggi untuk menghadapi dunia kerja dan persaingan global.
Dipandu oleh Rozi, diskusi dimulai dengan sesi refleksi. Para siswa diajak menceritakan perasaan, tantangan, dan tekanan yang mereka hadapi selama uji kompetensi di AHASS. Mereka juga diberi kesempatan untuk menyampaikan kekhawatiran serta harapan tentang masa depan setelah lulus dari madrasah.
Mafrudah yang duduk di tengah-tengah siswa dengan penuh perhatian, sesekali memberikan pertanyaan pemantik. “Apa yang kalian rasakan saat pertama kali masuk ruang ujian? Apakah ada rasa takut gagal? Lalu, bagaimana cara kalian mengatasi rasa gugup itu?” tanya Mafrudah memulai diskusi.
Para siswa dengan lugu namun jujur bergantian menyampaikan pengalaman mereka. Mulai dari rasa deg-degan saat ditugaskan membongkar mesin, hingga kebanggaan saat berhasil menyelesaikan tantangan dari para penguji AHASS. Guru produktif pun ikut memberikan masukan teknis tentang bagaimana menjaga konsentrasi dan mengelola emosi di tempat kerja nanti.
Momen puncak diskusi adalah ketika Mafrudah memberikan wejangan tentang konsep “mental juara”. Mafrudah menekankan bahwa keberhasilan di uji kompetensi hanyalah awal dari perjalanan panjang.
“Anak-anakku, kalian sudah hebat secara skill. Tapi di luar sana, banyak juga yang hebat secara teknik. Yang membedakan siapa yang bertahan dan sukses adalah mentalnya. Kalian harus kuat, tidak mudah menyerah, rendah hati, tapi percaya diri. Diskusi hari ini bukan untuk menggurui, tapi untuk menguatkan hati kalian agar siap melangkah lebih jauh. Jadilah pribadi yang tangguh, karena dunia kerja tidak hanya butuh tangan terampil, tetapi juga hati yang kuat dan akhlak yang mulia, dan tentunya Semangat ini sejalan dengan visi MAN 1 Bantul, yaitu Cadas Berkelas,” tutur Mafrudah dengan nada keibuan.
Sementara itu, Pak Rozi menambahkan bahwa penguatan mental ini penting agar siswa tidak hanya menjadi tenaga kerja yang cakap, tetapi juga memiliki etos kerja tinggi dan mampu beradaptasi di lingkungan industri yang kompetitif.
“Kami di sini tidak hanya mengajarkan cara merakit mesin, tapi juga membentuk karakter. Diskusi dengan Bu Mafrudah ini adalah bagian dari pendidikan karakter yang kami tanamkan. Semoga anak-anak semakin percaya diri melangkah,” ujar salah satu guru produktif.
Salah satu siswa mengaku mendapatkan perspektif baru setelah mengikuti diskusi tersebut. “Awalnya saya kira jadi mekanik cukup bisa memperbaiki motor saja. Tapi setelah ngobrol dengan Bu Kepala dan guru, saya sadar kalau mental dan sikap itu sama pentingnya. Saya jadi lebih siap secara mental untuk masuk ke dunia bengkel yang sesungguhnya,” ungkapnya.
Pertemuan yang dikemas layaknya diskusi keluarga besar madrasah ini diakhiri dengan doa bersama dan komitmen dari kelima siswa untuk terus menjaga semangat belajar dan memperbaiki diri. Mafrudah berharap, kegiatan sederhana namun bermakna ini dapat menjadi bekal berharga bagi para siswa dalam mengarungi masa depan.(Faro)

