Bantul(MAN 1 Bantul)-Kegiatan pembelajaran Ekonomi di kelas X MAN 1 Bantul berlangsung dinamis melalui penerapan metode inquiry learning pada materi Bank dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) yang berbasis literasi dan numerasi. Pembelajaran ini dirancang untuk mendorong siswa aktif mencari, menggali, dan menemukan sendiri konsep-konsep terkait lembaga keuangan, sekaligus mengasah kemampuan memahami informasi (literasi) dan mengolah data keuangan sederhana (numerasi). Suasana kelas tampak hidup sejak awal pembelajaran, ketika guru memantik rasa ingin tahu siswa melalui pertanyaan kontekstual tentang peran bank dan lembaga keuangan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahap awal, siswa diajak mengidentifikasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan layanan perbankan dan IKNB, seperti fungsi tabungan, kredit, asuransi, hingga fintech. Melalui diskusi kelompok, siswa merumuskan pertanyaan-pertanyaan kritis yang akan mereka teliti lebih lanjut. Pendekatan literasi tampak saat siswa membaca berbagai sumber informasi, sementara aspek numerasi terlihat ketika mereka mulai menelaah data seperti suku bunga, simulasi tabungan, maupun perhitungan sederhana terkait produk keuangan. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing arah pemikiran siswa tanpa memberikan jawaban secara langsung.
Selanjutnya, siswa melakukan kegiatan pengumpulan data melalui berbagai sumber, baik buku paket/buku teks kelas X, modul pembelajaran, artikel digital, media massa online, web instansi terkait, jurnal, maupun studi kasus aktual. Mereka menganalisis perbedaan konsep antara bank dan lembaga keuangan non bank, termasuk fungsi, manfaat, produk, serta perannya dalam perekonomian. Dalam proses ini, kemampuan numerasi siswa semakin terasah melalui interpretasi data dan penyajian informasi dalam bentuk tabel atau grafik sederhana. Presentasi hasil diskusi menjadi bagian penting, di mana setiap siswa menyampaikan temuan mereka dengan argumentasi yang logis dan berbasis data.

Kegiatan pembelajaran semakin menarik dengan adanya sesi tanya jawab dan refleksi bersama. Siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kondisi nyata di masyarakat. Hal ini terlihat dari kemampuan siswa dalam memberikan contoh konkret, seperti penggunaan layanan perbankan digital, pasar modal, dana pension, maupun manfaat produk asuransi. Interaksi antar siswa pun terbangun dengan baik, mencerminkan pembelajaran yang kolaboratif, komunikatif, serta berbasis literasi dan numerasi.

Melalui metode inquiry learning yang terintegrasi dengan literasi dan numerasi, pembelajaran materi Bank dan IKNB tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga melatih keterampilan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah. Guru berharap pendekatan ini mampu membentuk siswa yang lebih mandiri, cakap dalam mengelola informasi, serta adaptif terhadap perkembangan dunia keuangan. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya nyata dalam mewujudkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan zaman.(Ipk)

