Memahami CBP (Cinta Bangga dan Paham Rupiah) dan Inflasi

Bantul (MAN 1 Bantul) – Tim Pengendalian Inflasi Daerah TPID DIY bersama Bank Indonesia menggelar kegiatan “Mrantasi Inflasi Goes to School” di Grand Rohan Jogja pada hari Senin (4/5/2026). Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta, terdiri dari siswa, guru perwakilan dari SMA/MA/SMK se kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta dalam rangka implementasi pengendalian  inflasi melalui strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi,  dan Komunikasi Efektif). Program tersebut dilaksanakan untuk memberikan pemahaman kepada pendidik dan pelajar dalam rangka edukasi dan literasi inflasi melalui kegiatan Mrantasi (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi). Hal ini terkait pentingnya menjaga stabilitas harga, pola konsumsi bijak, serta peran masyarakat dalam mendukung ketahanan ekonomi daerah.

Acara diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan dari perwakilan TPID, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, foto bersama dan serangkaian sosialisasi dan edukasi Mrantasi Goes to School, CBP Rupiah, QRIS, kolaborasi narasumber dari TPID DIY dan Bank Indonesia. Agenda dilanjutkan diskusi dan tanya jawab serta post tes kahoot. Agenda ditutup dengan pemberian reward bagi peserta yang memperoleh skor tertinggi post tes menggunakan kahoot. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai pengertian inflasi, faktor penyebab kenaikan harga, dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, hingga langkah-langkah pengendalian inflasi yang dapat dilakukan dari lingkungan keluarga dan sekolah. Kegiatan juga diselingi dengan diskusi interaktif, kuis edukatif, dan simulasi sederhana tentang pengelolaan keuangan serta konsumsi cerdas agar siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan.

Melalui kegiatan ini, TPID DIY dan Bank Indonesia bertujuan meningkatkan literasi ekonomi masyarakat sejak usia sekolah sekaligus membangun kesadaran pentingnya menjaga stabilitas ekonomi daerah. Selain itu, program “Mrantasi Inflasi” diharapkan mampu menanamkan perilaku konsumtif yang sehat, mendukung gerakan cinta produk lokal, serta mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dampak positif kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh masyarakat luas karena edukasi yang diterima pelajar dapat diterapkan dan disebarluaskan di lingkungan keluarga maupun sekitar tempat tinggal mereka.

Terselenggaranya kegiatan edukatif tersebut berdampak karena memberikan pengalaman belajar kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Menurutnya, pembelajaran tentang inflasi tidak hanya penting dipahami secara teori, tetapi juga harus diterapkan dalam perilaku ekonomi sehari-hari, seperti berhemat, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mendukung ketahanan pangan keluarga. Para siswa terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dan aktif bertanya terkait kondisi ekonomi yang sedang terjadi di masyarakat.

Setelah mengikuti kegiatan “Goes to School Mrantasi Inflasi”, para siswa diharapkan mampu menjadi agen literasi ekonomi di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Siswa dapat berperan mengedukasi keluarga untuk berbelanja secara bijak, mengurangi perilaku konsumtif berlebihan, serta mendukung penggunaan produk lokal sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi. Dengan adanya sinergi antara TPID DIY, Bank Indonesia, dan dunia pendidikan, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengendalian inflasi semakin meningkat demi terciptanya ekonomi daerah yang stabil dan sejahtera. (Ipg)