Bantul (MAN 1 Bantul) — Pembinaan keagamaan di MAN 1 Bantul terus dikembangkan melalui pendekatan yang inklusif dan memperhatikan kondisi setiap siswa. Salah satunya melalui kegiatan pendampingan bagi siswi yang sedang uzur pada waktu salat Zuhur. Kegiatan tersebut menjadi bentuk sinergi antara guru pendamping dan Rohis dalam memastikan setiap siswi tetap mendapatkan ruang pembinaan spiritual meskipun tidak mengikuti salat berjamaah.
Saat waktu salat Zuhur tiba, siswi yang sedang uzur diarahkan untuk berkumpul di ruang PLET. Kegiatan kemudian diawali dengan pendataan atau presensi yang dilakukan oleh anggota Rohis dengan didampingi guru yang mendapat jadwal pendampingan.
Setelah proses presensi selesai, para siswi mengikuti kegiatan pembinaan dengan membaca Asmaul Husna dan salawatbersama-sama. Kegiatan berlangsung dalam suasana tertib dan tenang, sehingga para siswi tetap memiliki kesempatan untuk mengisi waktu dengan aktivitas bernuansa keagamaan.
Kehadiran anggota Rohis dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari proses pendampingan. Mereka tidak hanya membantu proses presensi, tetapi juga turut membangun suasana kebersamaan dan mengarahkan kegiatan agar berjalan dengan baik. Sementara itu, guru pendamping memberikan arahan serta memastikan kegiatan berlangsung secara tertib dan sesuai dengan tujuan pembinaan.
Kegiatan pendampingan ini dihadirkan agar siswi yang sedang uzur tidak sekadar menunggu hingga salat berjamaah selesai. Sebaliknya, mereka tetap mendapatkan suasana pembinaan spiritual melalui aktivitas yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi sinergi antara guru dan Rohis dalam memberikan pendampingan kepada siswi.
“Pembinaan keagamaan harus mampu menjangkau seluruh siswa dengan tetap memperhatikan kondisi masing-masing. Ketika ada anak yang tidak dapat mengikuti salat berjamaah karena uzur, bukan berarti proses pembinaan spiritualnya berhenti. Justru kita perlu menghadirkan kegiatan yang sesuai agar mereka tetap mendapatkan pengalaman religius dan pembentukan karakter,” tutur Mafrudah.
Menurutnya, keterlibatan Rohis dalam kegiatan tersebut juga menjadi sarana bagi siswa untuk belajar mengambil peran dan bertanggung jawab dalam kegiatan keagamaan di madrasah.
“Sinergi antara guru dan Rohis ini sangat positif. Anak-anak belajar untuk peduli, mendampingi, bekerja sama, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya religius, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama,” tambahnya.
Kegiatan ini sejalan dengan tagline MAN 1 Bantul, CADAS BERKELAS—Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi. Nilai Agamis dan Berkarakter tercermin melalui pembiasaan membaca Asmaul Husna dan salawat. Sementara itu, sikap saling mendampingi, menghargai kondisi setiap individu, dan memberikan ruang yang setara bagi seluruh siswa mencerminkan semangat Anti Diskriminasi.
Pendampingan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan karakter dan keagamaan di MAN 1 Bantul tidak hanya berorientasi pada kegiatan ibadah secara formal, tetapi juga pada terciptanya lingkungan madrasah yang peduli, inklusif, dan menghargai setiap kondisi siswa.
Sebab setiap siswa tetap berhak mendapatkan ruang untuk bertumbuh dalam nilai-nilai kebaikan, dengan cara yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.(nrm)

