Bantul (MAN 1 Bantul) — Pembelajaran tentang lingkungan di MAN 1 Bantul tidak berhenti pada kegiatan mengamati dan menyusun laporan. Setelah mempresentasikan hasil observasi tanaman di lingkungan madrasah Rabu (26/8/2026), murid kelas X terlibat dalam sesi tanya jawab dan diskusi mengenai cara merawat tanaman, media tanam, kebutuhan tanaman, hingga upaya menjaga kelestariannya.
Kegiatan yang dibimbing oleh Siti Maryam, S.Pd., tersebut menjadi bagian dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang diintegrasikan dengan nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), khususnya Cinta Lingkungan, serta mendukung rintisan Ekoteologi di MAN 1 Bantul.
Melalui presentasi, setiap kelompok menyampaikan hasil pengamatan terhadap tanaman yang dipilih. Setelah itu, murid lain diberikan kesempatan mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tidak hanya berkaitan dengan hasil pengamatan, tetapi berkembang pada hal-hal praktis, seperti bagaimana cara merawat tanaman, seberapa sering tanaman disiram, media tanam yang sesuai, kebutuhan cahaya, pemupukan, hingga cara menjaga tanaman agar dapat tumbuh dengan baik.
Diskusi tersebut membuat proses pembelajaran menjadi lebih hidup. Murid tidak hanya berperan sebagai penyaji informasi, tetapi juga sebagai penanya dan pemberi tanggapan. Mereka belajar mengembangkan rasa ingin tahu sekaligus memahami bahwa menjaga lingkungan membutuhkan pengetahuan dan tindakan nyata.
Pertanyaan tentang media tanam dan perawatan tanaman, misalnya, mendorong murid untuk melihat tanaman secara lebih mendalam. Mereka mulai memahami bahwa setiap tanaman memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Pemahaman tersebut menjadi dasar untuk menumbuhkan sikap peduli, karena merawat lingkungan tidak cukup hanya dengan memiliki keinginan untuk menjaga, tetapi juga membutuhkan pengetahuan tentang cara melakukannya.
Dalam perspektif Ekoteologi, pengalaman tersebut menjadi penting karena mempertemukan pengetahuan dengan tanggung jawab. Murid diajak memahami bahwa manusia tidak hanya hidup berdampingan dengan alam, tetapi juga memiliki kewajiban untuk memperlakukan lingkungan secara baik dan bertanggung jawab.
Siti Maryam, S.Pd., menjelaskan bahwa sesi tanya jawab memberikan kesempatan kepada murid untuk memperluas pemahaman dari objek yang mereka amati. “Ketika murid mulai bertanya bagaimana tanaman itu dirawat dan apa yang dibutuhkan agar dapat tumbuh, pembelajaran sudah bergerak dari sekadar mengetahui menuju kepedulian dan tindakan,” jelasnya.
Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., menilai pengalaman belajar semacam ini penting dalam membangun karakter peduli lingkungan. “Cinta lingkungan harus diwujudkan dalam tindakan. Mengenal tanaman, mengetahui kebutuhannya, kemudian ikut merawatnya merupakan bentuk sederhana dari kepedulian yang perlu terus dibiasakan,” ungkap Mafrudah.
Kegiatan presentasi dan diskusi tersebut menjadi bagian dari upaya MAN 1 Bantul menerjemahkan Panca Cinta—Cinta Lingkungan ke dalam pengalaman belajar yang nyata. Murid tidak hanya belajar tentang alam, tetapi juga diajak membangun hubungan yang lebih bertanggung jawab dengan lingkungan di sekitarnya.
Pembelajaran ini sekaligus memperkuat semangat CADAS BERKELAS, terutama karakter Cerdas, Adaptif, Smart, dan Berkarakter, serta nilai Cinta Lingkungan. Murid menggunakan pengetahuan untuk memahami kebutuhan alam, menggunakan komunikasi untuk berbagi informasi, dan menggunakan hasil pembelajaran sebagai bekal untuk melakukan tindakan nyata.
Dari sebuah tanaman yang diamati, lahirlah pertanyaan; dari pertanyaan, tumbuh pengetahuan; dan dari pengetahuan, diharapkan tumbuh kepedulian. Inilah semangat pembelajaran berbasis Ekoteologi yang sedang dirintis MAN 1 Bantul—mengenal alam dengan ilmu, mencintainya dengan kesadaran, dan menjaganya melalui tindakan. (Mry)

