Upacara Senin MAN 1 Bantul Gaungkan Etika Digital melalui Prinsip STOP

BANTUL (MAN 1 Bantul) – Upacara bendera rutin kembali dilaksanakan MAN 1 Bantul di halaman madrasah pada Senin (14/9/2026). Diikuti seluruh guru, tenaga kependidikan, dan murid, kegiatan berlangsung dengan tertib dan khidmat. Tidak sekadar menjadi agenda rutin awal pekan, upacara kali ini menjadi momentum untuk mengingatkan warga madrasah agar semakin bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan ruang digital.

Bertindak sebagai Pembina Upacara, Yustika Nurbaiti, S.Pd., M.Pd., Guru Multimedia sekaligus Staf Kesiswaan MAN 1 Bantul, mengangkat tema etika berinternet dan kecerdasan digital. Dalam amanatnya, Yustika mengajak para murid untuk tidak terburu-buru mengunggah, mengomentari, maupun membagikan informasi di media sosial.

Sebagai panduan sederhana, ia memperkenalkan prinsip “STOP” yang dapat digunakan sebelum seseorang membagikan sesuatu di dunia maya. Prinsip tersebut meliputi S – Think Before You Speak/Share, yaitu berpikir sebelum berbicara atau membagikan sesuatu; T – Truth, memastikan informasi yang dibagikan benar dan berdasarkan fakta; O – Offense, menghindari konten yang dapat menyinggung, merendahkan, menyakiti, atau menyebarkan kebencian; serta P – Privacy, menjaga privasi dan data pribadi, baik milik sendiri maupun orang lain.

Menurut Yustika, kecakapan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kematangan dalam bersikap. Kemudahan mengakses dan menyebarkan informasi harus disertai kesadaran bahwa setiap aktivitas digital meninggalkan jejak dan dapat membawa dampak bagi diri sendiri maupun orang lain.

“Prinsip STOP ini sangat relevan dengan latar belakang saya di bidang multimedia. Di era digital, jempol kita adalah cerminan karakter. Siswa harus paham bahwa satu klik bisa berdampak besar bagi masa depan mereka dan nama baik madrasah,” ungkap Yustika.

Pesan tersebut mendapat apresiasi dari Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I. Menurutnya, pendidikan karakter tidak hanya perlu dibangun dalam interaksi secara langsung, tetapi juga harus hadir dalam perilaku warga madrasah ketika beraktivitas di ruang digital.

“Kami sangat mendukung pesan yang disampaikan dalam amanat upacara hari ini. Kecerdasan digital harus berjalan beriringan dengan karakter dan akhlak. Murid perlu memahami bahwa menjadi cerdas di era digital bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memilih informasi, menjaga etika, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab atas apa yang dibagikan,” tutur Mafrudah.

Ia menambahkan bahwa pembiasaan tersebut menjadi bagian dari upaya MAN 1 Bantul membentuk generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai karakter dan kesantunan.

Antusiasme juga terlihat dari murid yang mengikuti upacara. Ahmad Fakhri, murid kelas XII FL1, mengaku mendapatkan pengingat penting mengenai kebiasaan bermedia sosial.

“Materi upacara hari ini sangat membuka pikiran. Selama ini kita sering asal share tanpa berpikir panjang. Panduan STOP menjadi pengingat buat saya dan teman-teman agar lebih bijak dan berhati-hati saat menggunakan media sosial,” ujar Fakhri.

Melalui upacara bendera, MAN 1 Bantul terus berupaya menghadirkan pesan-pesan edukatif yang dekat dengan kehidupan murid. Literasi digital dan etika bermedia sosial menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan madrasah yang aman, sehat, dan saling menghargai.

Komitmen tersebut sekaligus memperkuat implementasi CADAS BERKELAS, yakni Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi. Kecerdasan digital yang dibarengi karakter diharapkan mampu menjadikan murid MAN 1 Bantul tidak hanya cakap memanfaatkan teknologi, tetapi juga bijak dan bertanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat digital. (ad)