BANTUL (MAN 1 Bantul)— Penandatanganan komitmen kepedulian lingkungan tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi diwujudkan nyata melalui tindakan sehari-hari. Pada Jumat pagi (4/9/2026), di tengah berlangsungnya kegiatan pembelajaran di kelas, Sapto Pamungkas, salah seorang Tenaga Kependidikan (Tendik) MAN 1 Bantul, terlihat telaten dan rajin merawat tanaman di sekitar lingkungan madrasah.
Aksi sederhana ini membawa pesan mendalam. Sebagai seorang tendik, Sapto menempatkan dirinya sebagai sosok teladan (role model) bagi seluruh warga madrasah. Saat para siswa menyaksikan tendiknya telaten berkebun, mereka menyerap pelajaran tentang kepedulian lingkungan secara langsung melalui keteladanan nyata, bukan sekadar teori tekstual di dalam kelas.
Aktivitas ini menjadi media edukasi intuitif bahwa merusak alam merupakan bentuk pelanggaran etika agama, sedangkan melestarikannya adalah kebajikan luhur. Dalam perspektif ekoteologi, merawat bumi dipandang sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta. Menggeledah tanah, menanam, dan merawat pohon adalah pelaksanaan tugas spiritual untuk menjaga kelestarian ciptaan-Nya. Tanaman dipandang sebagai sesama makhluk yang patut dihormati; merawatnya mencerminkan rasa syukur atas nafas kehidupan yang dianugerahkan Tuhan.
Ekoteologi mengkritik keras sifat serakah manusia (antroposentrisme) yang kerap mengeksploitasi alam. Melalui sentuhan tangannya pada hijau tanaman, Sapto mengajarkan pentingnya harmoni, kesabaran, serta ketergantungan mutlak manusia pada ekosistem yang sehat.
Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, Sag., M.Pd.I., mengapresiasi kerja keras Sapto dalam merawat tanaman di lingkungan madrasah.
“Langkah Pak Sapto ini adalah manifestasi nyata dari pendidikan karakter berbasis lingkungan di madrasah kita. Pendidikan moral tidak selalu lewat mimbar kelas, tetapi juga melalui tindakan konsisten di lapangan. Apa yang beliau lakukan memperkuat pemahaman ekoteologi siswa bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah.” ujar Mafrudah.
Senada dengan Kepala Madrasah, Kepala Tata Usaha MAN 1 Bantul, Martiningsih, S.Pd.I., merasa bangga akan bagusnya kinerja Sapto.
“Kami sangat bangga dan mendukung penuh inisiatif serta konsistensi Pak Sapto. Sebagai bagian dari tenaga kependidikan, beliau menunjukkan bahwa dedikasi terhadap madrasah tidak terbatas pada tugas administratif semata, tetapi juga menjaga kenyamanan, keindahan, dan keasrian lingkungan belajar.” Tegas Martiningsih.
Siswa Kelas XI FD3, Ameli Aprilia Safani, merasa terinspirasi untuk ikut merawat tanaman di lingkungan madrasah.
“Melihat Pak Sapto rajin merawat tanaman setiap pagi membuat kami terinspirasi. Kami jadi sadar bahwa menjaga lingkungan itu tindakan nyata yang simpel tapi dampaknya besar. Ini bikin suasana sekolah jadi sejuk dan mengajarkan kami untuk lebih menghargai alam sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.” ungkap Ameli.
Manfaat tenaga pendidik mengurusi tanaman dalam bingkai ekoteologi adalah mewujudkan peran manusia sebagai pemelihara ciptaan Tuhan melalui aksi nyata di lingkungan madrasah. Ekoteologi memandang lingkungan hidup sebagai ciptaan yang suci, di mana menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab iman dan ibadah. Hal ini tentunya sejalan dengan tagline MAN 1 Bantul yang sedang gencar disosialisasikan: CADAS BERKELAS (Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi). (chr).

