Bantul (MAN 1 Bantul) – Kegiatan pembelajaran mata pelajaran Ekonomi dengan materi Kemiskinan dan Kesenjangan Ekonomi dilaksanakan dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) di ruang kelas. Model ini dipilih dengan maksud mengajak siswa memahami persoalan kemiskinan dan kesenjangan ekonomi tidak sekadar sebagai konsep teoretis dalam buku teks, melainkan sebagai permasalahan nyata yang terjadi di lingkungan sekitar mereka. Melalui pendekatan berbasis masalah ini, guru berupaya mendorong siswa untuk berpikir kritis, menganalisis data dan fakta sosial-ekonomi, serta merumuskan solusi atas persoalan yang dikaji, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan tidak berhenti pada hafalan definisi semata.

Pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menganalisis penyebab dan dampak kemiskinan serta kesenjangan ekonomi, mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills), serta menumbuhkan kepekaan sosial terhadap kondisi masyarakat di sekitar mereka. Selain itu, model PBL juga diarahkan untuk melatih kemampuan siswa dalam bekerja sama secara kolaboratif, menyampaikan gagasan secara sistematis, dan mengambil keputusan berdasarkan data, yang seluruhnya merupakan keterampilan abad ke-21 yang diperlukan siswa di luar konteks akademik.
Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan guru menyajikan suatu permasalahan kontekstual terkait kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, misalnya berupa data statistik, artikel berita, atau studi kasus di lingkungan sekitar sekolah. Siswa kemudian dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan pertanyaan penyelidikan, serta mengumpulkan informasi dan data pendukung dari berbagai sumber. Selanjutnya, setiap kelompok berdiskusi merumuskan solusi atau rekomendasi kebijakan yang relevan, sebelum akhirnya mempresentasikan hasil analisis mereka di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dan penguatan dari guru maupun kelompok lain.

Penerapan Problem Based Learning pada materi ini memberikan manfaat kontekstual yang signifikan bagi murid, karena mereka tidak hanya memahami teori kemiskinan dan kesenjangan ekonomi secara akademis, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan fenomena nyata yang mereka temui sehari-hari, seperti kesenjangan fasilitas, akses pendidikan, atau kondisi ekonomi keluarga di sekitar mereka. Pembelajaran ini turut menumbuhkan empati sosial, kepedulian terhadap isu ketimpangan, serta kesadaran akan peran yang dapat mereka ambil sebagai bagian dari solusi di masa depan. Dengan demikian, siswa memperoleh pengalaman belajar yang aplikatif, relevan dengan kehidupan nyata, dan membekali mereka dengan wawasan sosial-ekonomi yang lebih utuh. (Ipg)

