Bantul (MAN 1 Bantul) – Suasana ruang pemungutan suara di MAN 1 Bantul, Rabu (2/9/2026), tampak berbeda dari biasanya. Siswa datang secara bergantian menuju tempat pemungutan suara untuk menggunakan hak pilih dalam Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIM (Pemilos) serentak. Antrean berlangsung tertib. Ada yang tampak serius memperhatikan petunjuk petugas, ada pula yang berdiskusi ringan dengan teman sebelum tiba gilirannya. Namun, ketika berada di bilik suara, setiap siswa menentukan pilihannya sendiri.
Di ruang itulah suasana demokratis benar-benar terasa. Tidak ada pilihan yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua siswa memiliki satu suara dan kesempatan yang sama untuk menentukan calon pemimpin OSIM yang mereka percaya.
Setelah menerima surat suara dari petugas, siswa menuju bilik pemilihan. Beberapa saat kemudian, mereka keluar, melipat kembali surat suara, lalu memasukkannya ke dalam kotak suara. Proses sederhana tersebut menjadi pengalaman nyata bagi siswa tentang bagaimana sebuah pilihan dalam demokrasi harus dilakukan secara bebas dan bertanggung jawab.
Para petugas PPO dan KPPS OSIM tampak sigap mengatur jalannya pemungutan suara. Mereka memastikan setiap tahapan berlangsung tertib sekaligus membantu siswa yang membutuhkan penjelasan mengenai prosedur pemilihan. Guru Pendidikan Pancasila, Agustin Budihayati Putri,S.Pd, mendampingi PPO dan KPPS melaksanakan pemilos.
Yang menarik, suasana demokratis tersebut hadir dalam balutan budaya Yogyakarta. PPO dan KPPS mengenakan lurik dan jarik gagrak Yogyakarta. Busana tradisional itu bukan sekadar pemanis kegiatan, tetapi menjadi pesan bahwa generasi muda dapat menjalankan demokrasi dengan tetap menjunjung identitas budaya daerah.
Sebelum memasuki ruang pemungutan suara, para siswa telah mendapatkan pengalaman demokrasi melalui rangkaian Pemilos yang dimulai dengan apel peluncuran. Apel dipimpin oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Bantul, Nugroho Eko Setyanto, S.Sos., M.M. Setelah apel, kegiatan dilanjutkan melalui Zoom untuk mengikuti peluncuran Pemilos serentak.
Namun, pembelajaran demokrasi yang sesungguhnya terlihat ketika siswa berada di depan surat suara. Mereka dihadapkan pada tiga pilihan pasangan calon. Tidak semua siswa memilih pasangan yang sama. Perbedaan pilihan justru menjadi bagian dari proses demokrasi yang harus dihargai.
Suasana semakin menarik ketika proses penghitungan suara dimulai. Surat suara dibuka satu per satu di hadapan para saksi dan pihak terkait. Setiap suara dicatat dengan cermat. Sesekali terdengar respons dari siswa ketika nama pasangan calon yang mereka dukung disebut. Namun, seluruh proses tetap berlangsung dalam suasana tertib hingga seluruh suara selesai dihitung.
Hasil akhir menunjukkan Paslon 3, Muhammad Rava Aljashar dan Aisyah Putri, memperoleh 371 suara. Sementara itu, Paslon 2, Sakya Cahya Dewi dan Daffa Rahmana T., memperoleh 137 suara, sedangkan Paslon 1, Virly Nuriya Haliz dan Denny Setyawati, memperoleh 70 suara.
Sorak kegembiraan dari pendukung pasangan terpilih menjadi bagian dari suasana setelah hasil diumumkan. Namun, kemenangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kompetisi telah selesai. Setelah hasil ditetapkan, seluruh siswa kembali menjadi satu keluarga besar MAN 1 Bantul.
Kepala MAN 1 Bantul, Hj. Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi seluruh pihak yang telah menyukseskan pelaksanaan Pemilos.
“Pemilos adalah pembelajaran demokrasi yang nyata bagi anak-anak. Mereka belajar menggunakan hak pilih, menghargai perbedaan pilihan, berkompetisi secara sehat, dan menerima hasil dengan lapang dada. Siapa pun yang terpilih harus mendapatkan dukungan untuk menjalankan amanah,” tuturnya.
Menurutnya, pengalaman siswa di ruang pemungutan suara merupakan pembelajaran yang tidak kalah penting dibandingkan materi demokrasi yang mereka pelajari di kelas. Siswa tidak hanya mengetahui pengertian hak pilih, tetapi merasakan langsung bagaimana menggunakan hak tersebut.
“Budaya dan demokrasi dapat berjalan bersama. Hari ini kita melihat anak-anak tampil dengan lurik dan jarik gagrak Yogyakarta, tetapi sekaligus menunjukkan karakter demokratis. Merekabelajar menghargai perbedaan dan bertanggung jawab atas pilihan masing-masing,” jelasnya.
Pelaksanaan Pemilos tersebut juga menjadi bagian dari penguatan karakter “cadas berkelas” MAN 1 Bantul: Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi.
Kepala madrasah menegaskan bahwa perolehan 371 suara bagi Paslon 3 bukan sekadar angka, melainkan amanah yang harus diwujudkan dalam kerja nyata.
“Setelah penghitungan suara selesai, tidak ada lagi nomor 1, 2, atau 3. Yang ada adalah satu keluarga besar MAN 1 Bantul. Paslon yang terpilih harus mampu menjadi pemimpin bagi semua,” pesannya.
Pemilos MAN 1 Bantul pun menjadi gambaran kecil bagaimana demokrasi dapat dipraktikkan sejak dari lingkungan madrasah. Di dalam bilik suara, siswa belajar tentang kebebasan menentukan pilihan. Di luar bilik, mereka belajar menghormati pilihan orang lain. Dalam proses penghitungan, mereka belajar menerima hasil.
Sementara itu, lurik dan jarik gagrak Yogyakarta menjadi pengingat bahwa demokrasi tidak harus berjarak dengan budaya. Keduanya justru dapat berjalan beriringan: demokrasi menjadi nilai yang dipraktikkan, sedangkan budaya menjadi identitas yang tetap dijaga.
Dengan terpilihnya Muhammad Rava Aljashar dan Aisyah Putri, babak baru kepemimpinan OSIM MAN 1 Bantul dimulai. Amanah 371 suara kini menanti untuk diwujudkan dalam program dan karya yang dapat dirasakan seluruh siswa.
Dari ruang pemungutan suara, MAN 1 Bantul mengajarkan satu hal sederhana tetapi penting: berbeda pilihan bukan berarti berbeda persaudaraan. Demokratis dalam memilih, santun dalam bersikap, dan siap menerima hasil—itulah praktik demokrasi yang hidup di madrasah “cadas berkelas”.(agoes)

