Wujudkan Kelas Ceria dan Berkarakter, Guru MAN 1 Bantul Ikuti Workshop Integrasi KBC

Bantul (MAN 1 Bantul) — Mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus menguatkan karakter murid, guru MAN 1 Bantul mengikuti Workshop Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan tema “Integrasi KBC dalam Pembelajaran: Mewujudkan Suasana Kelas Ceria dan Menumbuhkan Karakter Positif Siswa”, Jumat (25/9/2026).

Workshop menghadirkan Heni Prilantari, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber. Kegiatan menjadi ruang penguatan kompetensi guru dalam menerapkan prinsip-prinsip KBC ke dalam proses pembelajaran sehingga nilai cinta, empati, penghargaan, dan kepedulian dapat hadir dalam interaksi antara guru dan murid.

Dalam pemaparannya, Heni menekankan pentingnya pendekatan yang penuh kasih sayang, empati, dan humanis dalam proses pembelajaran. Menurutnya, suasana kelas yang aman, nyaman, ceria, dan inklusif dapat membantu murid lebih terbuka dalam belajar sekaligus memberikan ruang bagi tumbuhnya karakter positif.

Pembelajaran berbasis cinta tidak berarti mengurangi kedisiplinan maupun ketegasan guru. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut dapat diterapkan melalui cara guru berkomunikasi, memberikan umpan balik, memahami kebutuhan murid, serta menciptakan lingkungan belajar yang menghargai setiap individu.

Para guru MAN 1 Bantul mengikuti kegiatan dengan antusias melalui pemaparan materi, diskusi, dan penugasan interaktif. Guru diajak mengidentifikasi praktik pembelajaran yang telah dilakukan serta merancang strategi agar prinsip KBC dapat diintegrasikan sesuai karakteristik mata pelajaran dan kebutuhan murid.

Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi pelaksanaan workshop tersebut. Menurutnya, penguatan kompetensi guru menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga perkembangan karakter murid.

“Kami menyambut baik workshop KBC ini karena guru memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. Ketika murid merasa dihargai dan diterima, mereka akan lebih siap untuk belajar, berkembang, dan menunjukkan potensi terbaiknya,” ujar Mafrudah.

Ia berharap wawasan yang diperoleh guru tidak berhenti pada kegiatan workshop, tetapi diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.

“KBC perlu hadir dalam praktik nyata. Cara kita berbicara, membimbing, memberikan apresiasi, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan murid merupakan bagian dari pendidikan berbasis cinta. Ini sejalan dengan semangat CADAS BERKELAS, terutama dalam membentuk murid yang cerdas, adaptif, dan berkarakter,” tambahnya.

Workshop tersebut menjadi salah satu upaya MAN 1 Bantul dalam membangun budaya pembelajaran yang lebih humanis dan bermakna. Integrasi KBC diharapkan mampu menciptakan kelas yang ceria sekaligus menjadi ruang tumbuh bagi murid untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan karakter positif.

Melalui penguatan kompetensi guru secara berkelanjutan, MAN 1 Bantul terus berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu dan berorientasi pada perkembangan murid secara utuh, sejalan dengan implementasi CADAS BERKELAS: Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi. (Etra)