MAN 1 Bantul Pelajari Best Practice Budaya Prestasi di MAN 15 Jakarta

Bantul (MAN 1 Bantul) — Pengembangan budaya prestasi menjadi salah satu fokus yang dipelajari MAN 1 Bantul melalui kunjungan best practice ke MAN 15 Jakarta. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pengurus Kelompok Kerja Kepala Madrasah Aliyah Plus Keterampilan (KKMA Plus Keterampilan) Nasional Tahun 2026 di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., bersama peserta lainnya memperoleh paparan dari Kepala MAN 15 Jakarta, Dr. H. Muhammad Hatta, M.Ed. Paparan berfokus pada strategi membangun sistem dan budaya prestasi yang melibatkan seluruh unsur madrasah, baik murid maupun guru.

MAN 15 Jakarta menempatkan budaya berprestasi sebagai bagian dari ikhtiar madrasah dalam mendorong warga madrasah untuk terus berkembang. Semangat tersebut antara lain dikaitkan dengan QS. Al-Baqarah ayat 148 tentang berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) serta QS. Al-Mujadilah ayat 11 yang mengandung pesan tentang keutamaan orang-orang yang beriman dan berilmu.

Salah satu praktik yang diterapkan adalah teacher talk yang dilaksanakan setiap Jumat. Forum tersebut menjadi ruang komunikasi dan penguatan bagi guru untuk terus membangun semangat positif serta budaya berprestasi di lingkungan madrasah.

Dalam paparannya, Hatta menekankan bahwa madrasah keterampilan tidak cukup hanya mengembangkan kompetensi vokasi. Penguatan prestasi akademik juga perlu mendapatkan perhatian agar murid memiliki kompetensi yang seimbang.

Salah satu strategi yang dikembangkan adalah membangun sistem budaya prestasi dengan target setiap murid dan guru memiliki setidaknya satu prestasi. Untuk mendukung sistem tersebut, madrasah membentuk Tim Manajemen Prestasi yang bertugas mengelola, memantau, dan mengembangkan berbagai potensi prestasi warga madrasah.

Informasi mengenai berbagai kompetisi juga dihimpun secara aktif, termasuk melalui media sosial. Setiap informasi lomba perlu diperiksa dan dikurasi terlebih dahulu untuk memastikan kredibilitas penyelenggara dan kejelasan kompetisinya sebelum ditindaklanjuti oleh murid maupun guru.

Prestasi yang diraih murid juga diintegrasikan ke dalam sistem pembelajaran dan pembinaan. Kejuaraan yang relevan dapat menjadi pertimbangan dalam penguatan nilai pada mata pelajaran yang bersangkutan. Selain itu, capaian prestasi juga dapat menjadi bagian dari pembinaan kedisiplinan murid melalui mekanisme yang telah ditetapkan madrasah, termasuk sebagai pertimbangan dalam pengurangan poin pelanggaran.

Pengelolaan prestasi dilakukan secara terdokumentasi. Kejuaraan yang diraih warga madrasah dicatat dan dikelola sebagai bagian dari rekam prestasi madrasah, termasuk melalui pendataan yang berkaitan dengan Perpustakaan Nasional.

Hasil pengembangan budaya prestasi tersebut tergambar dari capaian MAN 15 Jakarta. Hingga Januari–September 2026, prestasi guru dan murid yang berhasil dihimpun telah mencapai lebih dari 7.000 prestasi, baik melalui kompetisi daring maupun luring.

Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi praktik baik yang dibagikan MAN 15 Jakarta. Menurutnya, budaya prestasi perlu dibangun melalui sistem yang terencana, bukan hanya mengandalkan munculnya prestasi secara insidental.

“Yang menarik dari praktik di MAN 15 Jakarta adalah bagaimana prestasi dibangun menjadi sebuah sistem dan budaya. Ada target, ada tim yang mengelola, ada pencarian informasi lomba, ada pendataan, dan ada tindak lanjut. Ini memberikan banyak inspirasi bagi kami untuk mengembangkan budaya prestasi di MAN 1 Bantul,” ujar Mafrudah.

Ia menambahkan bahwa pengembangan budaya prestasi perlu mencakup seluruh bidang, baik akademik, nonakademik, maupun keterampilan.

“Sebagai Madrasah Aliyah Negeri Plus Keterampilan, kami ingin murid tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki prestasi akademik dan nonakademik. Semangat fastabiqul khairat dapat kita maknai sebagai dorongan untuk berlomba dalam kebaikan dan memberikan kemampuan terbaik,” tambahnya.

Praktik baik tersebut selaras dengan penguatan CADAS BERKELAS di MAN 1 Bantul, khususnya nilai Cerdas, Adaptif, Smart, dan Berkarakter. Budaya prestasi diharapkan dapat mendorong murid dan guru untuk terus mengembangkan potensi, berani menghadapi tantangan, serta menghasilkan karya dan capaian yang memberikan manfaat bagi madrasah.

Kunjungan best practice ini menjadi bahan refleksi sekaligus inspirasi bagi MAN 1 Bantul untuk terus memperkuat manajemen prestasi. Dengan sistem yang terarah dan kolaborasi seluruh warga madrasah, budaya prestasi diharapkan tumbuh menjadi bagian dari keseharian dan mendukung terwujudnya MAN 1 Bantul sebagai madrasah yang maju, bermutu, dan mendunia. (Maf)