Di Balik Bendera & Perlombaan: Sebuah Refleksi 17-an


Oleh : Bidang Kajian dan Integrasi Keislaman Rohis Al-Mumtaz MAN 1 Bantul

3 Hari lagi Dirgahayu RI #81 kan?… Kebayang di tiap jalan ada bendera dan tiap malam ada suara perlombaan voli wkwk

Tapi.. Kalo mo jujur, kita tuh tiap hari lomba terus lohh (ngga usah nungguin 17 an). Iya, lomba cepet-cepetan viral, cepet-cepetan ingin diakui, dianggap menang, dianggap paling tahu, sampai cemas kalau nggak dianggap bagian dari mereka—yang sebetulnya mereka pun tak kenal siapa kita.

Jadi mikir kan; apa hakikat kemerdekaan jika diri masih dibelenggu fyp? Jika tertawa hanya ternganga pada pujian dan narasi orang? Jika senyuman hanya terjadi karena like n validasi? Bahkan, rela berpura² jadi orang lain hanya demi dikatai “keren”?

Soal keinginan, validasi, fomo, takut pada penilaian orang… kita pasti pernah merasakannya.. Tapi tahukah kita..

​Bung Hatta, hingga wafatnya tak pernah sanggup membeli sepatu Bally impiannya karena uangnya selalu habis untuk rakyat. Haji Agus Salim, sang diplomat jenius yang menguasai 9 bahasa, ngga punya rumah guys; literally ngontrak terus. Bahkan Jenderal Soedirman, dalam kondisi paru-paru tinggal sebelah dan ditandu masuk-keluar hutan, milih buat tetep berjuang memandu pasukan; padahal bisa aja beliau ambil istirahat. Kenapa sih bisa segitunya?

Barangkali mereka tlah merasakan kemerdekaan sebelum Indonesia literally merdeka 8 ’45. Merdeka dari perbudakan harta, merdeka dari validasi, dari narasi orang soal diri, dari syahwat ingin dipuji mengusai dan ditaati; benar benar bebas dari belenggu ego diri. Bahkan, merelakan diri untuk yang lain.

Selaras dengan Al A’raf 157; bahwa kemerdekaan sebenar itu hadir, kala belenggu ego, keserakahan, validasi di letakkan jauh; jauh dari kita.

​Alangkah indahnya jika kita dapat tersenyum bebas tanpa pujian. Tersenyum atas bahagianya mereka yang kita bantu. Alangkah bahagianya jika semua manusia bersaudara tanpa intrik kepentingan terselubung. Alangkah bahagianya, jika bisa menjadi diri sendiri tanpa harus bertopeng untuk dan demi orang lain.

Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake. (Kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan)…

Hmm.. 🙂‍↕️

Oke guys, btw nikmati lombanya, jalan sehatnya, dorprizenya. Jangan lupa tirakatan dan berjuang mewujudkan kemerdekaan diri, kemerdekaan jiwa, menyongsong Indonesia emas 2045 😁🔥🔥

Salam Dirgahayu RI #81 ​🇮🇩