Bantul (MAN 1 Bantul) – Ada kalanya sebuah panggung bukan tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang siapa yang berani melangkah ke atasnya. Semangat itulah yang mewarnai latihan Storytelling bertema “Keteladanan Pahlawan Indonesia” di MAN 1 Bantul sebagai persiapan mengikuti lomba storytelling yang diselenggarakan oleh Dharma Wanita RRI Yogyakartapada hari Sabtu (05/09/2026).
Dalam ajang tersebut, MAN 1 Bantul diwakili oleh Airin Setiyana Putri, siswi kelas X E 4. Airin memilih sosok R.A. Kartini sebagai tokoh yang diangkat dalam storytelling. Melalui kisah Kartini, Airin tidak hanya belajar menyampaikan sebuah cerita, tetapi juga menggali nilai-nilai keteladanan dari seorang tokoh perempuan yang dikenal karena perjuangannya terhadap pendidikan dan kemajuan perempuan Indonesia.
Bagi Airin, kesempatan ini menjadi pengalaman yang istimewa karena merupakan lomba storytelling pertamanya. Tidak mudah bagi seorang siswa yang baru pertama kali mengikuti lomba untuk berdiri di hadapan banyak orang dan menyampaikan cerita dengan penuh ekspresi. Rasa gugup tentu menjadi bagian dari proses tersebut.
Karena itu, latihan dilakukan secara serius dan bertahap. Airin berlatih menguasai naskah, memperbaiki pengucapan dan intonasi, mengatur ekspresi wajah, menggunakan gerak tubuh, serta membangun keberanian agar mampu menyampaikan kisah Kartini dengan lebih hidup.
Namun, sejak awal, keikutsertaan Airin tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar kemenangan.
“Yang paling penting dari kegiatan ini adalah memberikan pengalaman kepada siswa untuk berani tampil, berani mencoba, dan berani keluar dari rasa takut. Juara tentu merupakan sesuatu yang membanggakan, tetapi pengalaman dan keberanian yang diperoleh siswa juga merupakan hasil belajar yang sangat berharga,”ungkapKepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I
Menurutnya, kegiatan lomba menjadi salah satu sarana bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang tidak selalu dapat terlihat dalam pembelajaran di kelas. Kemampuan berbicara, berekspresi, mengelola rasa gugup, dan berkomunikasi di depan publik merupakan keterampilan yang akan bermanfaat bagi siswa dalam berbagai situasi di masa mendatang.
Perjalanan Airin dalam lomba ini memang belum berujung pada sebuah kejuaraan. Namun, pengalaman pertamanya berdiri di panggung dan menyampaikan cerita tentang Kartini menjadi bekal yang tidak kalah penting.
Dari pengalaman tersebut, Airin dapat mengetahui bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki, mulai dari penguasaan cerita, ekspresi, intonasi, hingga keberanian membangun interaksi dengan penonton. Semua itu menjadi bahan evaluasi untuk tampil lebih baik pada kesempatan berikutnya.
“Tidak mendapatkan juara bukan berarti pengalaman ini sia-sia. Justru dari pengalaman pertama inilah Airin dapat belajar dan mempersiapkan diri untuk kesempatan berikutnya. Yang penting adalah berani mencoba, mau belajar, dan terus memperbaiki diri,” lanjut Kepala MAN 1 Bantul.
Semangat tersebut sejalan dengan upaya MAN 1 Bantul dalam memberikan ruang kepada siswa untuk tumbuh melalui berbagai pengalaman. Lomba bukan hanya tempat untuk mencari pemenang, tetapi juga ruang belajar untuk membangun karakter, kepercayaan diri, kreativitas, dan keberanian.
Airin mungkin belum membawa pulang sebuah trofi dari panggung storytelling kali ini. Namun, ia membawa pulang sesuatu yang lebih mendasar: pengalaman pertama untuk berani tampil, keberanian untuk mencoba, dan pelajaran untuk menjadi lebih baik.
Sebab, setiap juara memiliki sebuah proses. Dan bagi Airin, proses itu baru saja dimulai—dengan kisah Kartini, sebuah panggung, dan keberanian untuk mencoba.(Sof)

