Tingkatkan Kualitas MA Plus Keterampilan, Waka Kurikulum MAN 1 Bantul Ikuti Pembinaan Kasubdit Vokasi Kemenag RI

BANTUL (MAN 1 Bantul) — Waka Kurikulum MAN 1 Bantul, Arfi Nurdiyantoro, S.Pd., menghadiri agenda Pembinaan dari Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Pendidikan Vokasi dan Inklusi pada Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Dr. H. Anis Masykur, M.A. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Madrasah Aliyah Plus Keterampilan (KKMA-K) DIY ini berlangsung pada Senin (19/10/2026) pukul 13.00 WIB di Aula MAN 2 Yogyakarta. 

Pertemuan strategis ini diikuti oleh Kepala Madrasah, Waka Kurikulum, dan Guru Keterampilan Madrasah Aliyah Plus Keterampilan se-DIY guna memperkuat arah kebijakan kurikulum dan kualitas vokasi di lingkungan madrasah. 

Dalam pemaparannya, Dr. H. Anis Masykur, M.A. menekankan pentingnya reorientasi pendidikan keterampilan agar tidak menciptakan anomali lulusan. Beliau mendorong agar penguatan life skills (keterampilan hidup) diintegrasikan secara mendalam ke dalam Kurikulum Merdeka melalui pendekatan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning / PjBL) dan berbasis masalah (Problem-Based Learning / PBL) yang kontekstual. 

“Pendidikan keterampilan di madrasah harus mampu menjawab tantangan realitas sosial. Keterampilan vokasional seperti teknik komputer, tata boga, otomotif, maupun teknik las tidak boleh berdiri sendiri, melainkan harus terhubung dan terintegrasi dengan mata pelajaran umum seperti Fisika, Biologi, Kimia, Matematika, hingga Fiqih dan Sosiologi,” terang Anis Masykur dalam materi pembinaannya. 

Menganggapi pembinaan tersebut, Waka Kurikulum MAN 1 Bantul, Arfi Nurdiyantoro, S.Pd., menyatakan kesiapannya untuk mentransformasikan materi pembinaan ke dalam struktur pembelajaran di MAN 1 Bantul.

“Pengarahan dari Kasubdit Vokasi menjadi pijakan penting bagi MAN 1 Bantul sebagai MA Plus Keterampilan. Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan projek integrasi keilmuan yang kolaboratif—misalnya menghubungkan konsep sains dan fiqih dengan keterampilan praktis—sehingga siswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki life skills yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja,” ungkap Arfi Nurdiyantoro ­(arf)