Bantul (MAN 1 Bantul) – Suasana kelas FL 4 MAN 1 Bantul pada Rabu (11/2/2026) tampak berbeda dari biasanya. Aroma makanan tradisional yang menggugah selera berpadu dengan gelak tawa dan diskusi hangat para siswa. Pada hari itu, mereka mengikuti pembelajaran materi kearifan lokal melalui eksplorasi makanan tradisional dan berbagai pedoman bijak warisan leluhur.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang bertujuan mengenalkan siswa pada nilai-nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat. Beragam makanan tradisional seperti gudeg, tiwul, jadah, klepon, dan geplak dihadirkan sebagai media belajar. Siswa tidak hanya mencicipi, tetapi juga mempresentasikan sejarah, filosofi, serta nilai sosial yang terkandung di dalamnya.
Salah satu kelompok menjelaskan bahwa gudeg yang menjadi ikon kuliner Yogyakarta melambangkan kesabaran karena proses memasaknya yang lama, sementara tiwul mencerminkan semangat kemandirian dan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan pangan lokal. Dari makanan sederhana, siswa belajar bahwa setiap hidangan menyimpan pesan moral dan identitas budaya.
Selain membahas kuliner, siswa juga mendalami berbagai pedoman bijak warisan leluhur, seperti ungkapan “alon-alon asal kelakon” dan “rukun agawe santosa.” Diskusi berlangsung aktif ketika siswa mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kehidupan remaja masa kini, termasuk pentingnya kerja sama, toleransi, dan sikap saling menghargai di lingkungan sekolah.
Guru pengampu menyampaikan bahwa pembelajaran ini dirancang agar siswa tidak hanya memahami konsep kearifan lokal secara teori, tetapi juga merasakannya secara langsung. “Melalui makanan tradisional dan petuah leluhur, siswa dapat memahami bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan pedoman hidup yang relevan hingga sekarang,” ujarnya.
Kepala madrasah, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., memberikan apresiasi atas kreativitas pembelajaran tersebut. Menurutnya, kegiatan ini selaras dengan tag line madrasah, MAN 1 Bantul CADAS BERKELAS: cerdas, agamis, demokratis, adaptif, smart, berkarakter, cinta lingkungan, dan anti diskriminasi.
“Pembelajaran seperti ini membentuk siswa yang cerdas secara intelektual sekaligus berkarakter. Nilai-nilai kearifan lokal yang dipelajari menanamkan sikap agamis, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan semangat kebersamaan tanpa diskriminasi. Ini adalah wujud nyata pendidikan yang demokratis dan adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berakar pada budaya bangsa,” ungkap Mafrudah.
Mafrudah juga menambahkan bahwa melalui kegiatan tersebut, siswa dilatih untuk lebih peka terhadap lingkungan dan budaya sekitar sebagai bentuk cinta tanah air. “Generasi muda harus menjadi pribadi yang smart dan berkarakter, mampu menjaga warisan leluhur sekaligus siap menghadapi tantangan global,” tambahnya.
Kegiatan diakhiri dengan refleksi bersama, di mana siswa menyampaikan kesan dan pelajaran yang diperoleh. Banyak di antara mereka mengaku semakin bangga terhadap budaya daerah serta termotivasi untuk melestarikannya.
Pembelajaran yang berlangsung dengan penuh keceriaan ini membuktikan bahwa mengenal kearifan lokal dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan bermakna. FL 4 MAN 1 Bantul pun menunjukkan bahwa generasi muda mampu menjadi penjaga sekaligus penerus nilai-nilai luhur bangsa, sejalan dengan semangat MAN 1 Bantul CADAS BERKELAS. (mda)

