BANTUL (MAN 1 Bantul) – Tidak semua rasa dapat diungkapkan secara langsung. Ada kalanya cinta, rindu, dan rasa terima kasih menemukan jalannya melalui rangkaian kata. Itulah yang dilakukan oleh lima guru dan 50 siswa MAN 1 Bantul dengan menghadirkan sebuah antologi puisi bertema Ibu yang diterbitkan oleh PT Nyala Masa Depan Indonesia, Surakarta, pada tahun 2026.
Buku tersebut menjadi ruang pertemuan bagi berbagai suara dan perasaan. Di dalamnya tersimpan kisah tentang tangan yang tak pernah lelah menggenggam, doa yang tak pernah putus dipanjatkan, serta kasih sayang yang tetap hadir bahkan ketika jarak memisahkan. Melalui puisi, para penulis mencoba mengabadikan sosok ibu yang sering kali menjadi sumber kekuatan dalam setiap langkah kehidupan.
Menariknya, antologi ini lahir dari kolaborasi guru dan siswa. Perbedaan usia dan pengalaman justru memperkaya makna yang tersaji dalam setiap halaman. Jika sebagian siswa menuliskan kenangan sederhana bersama ibu, para guru menghadirkan refleksi yang lebih mendalam tentang arti pengorbanan, ketulusan, dan cinta yang tumbuh sepanjang perjalanan hidup.
Karya bersama ini menjadi bukti bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga merupakan kemampuan merasakan, memahami, dan menyampaikan nilai-nilai kehidupan kepada orang lain. Melalui puisi, guru dan siswa belajar memaknai kembali sosok ibu sebagai madrasah pertama yang mengajarkan cinta, ketulusan, dan keteguhan hati.
Kepala MAN 1 Bantul, Hj. Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas lahirnya karya tersebut. Menurutnya, antologi puisi ini menunjukkan bahwa madrasah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kepekaan rasa dan karakter peserta didik.
“Puisi-puisi ini lahir dari hati. Di balik setiap bait terdapat ungkapan kasih sayang, penghormatan, dan rasa syukur kepada ibu. Karya ini menjadi bukti bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kecerdasan emosional dan spiritual,” tuturnya.
Lebih dari sekadar buku, antologi puisi ini menjadi cerminan nilai-nilai yang terus ditanamkan di MAN 1 Bantul melalui semangat CADAS BERKELAS. Karya ini menunjukkan kecerdasan dalam berkreasi, karakter yang kuat dalam menghargai jasa orang tua, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman melalui produktivitas literasi. Di saat yang sama, kolaborasi antara guru dan siswa menghadirkan suasana belajar yang demokratis, saling menghargai, dan bebas dari sekat maupun diskriminasi.
Melalui antologi puisi bertema Ibu ini, MAN 1 Bantul kembali membuktikan bahwa karya sederhana yang lahir dari ketulusan mampu menghadirkan makna yang mendalam. Sebab pada akhirnya, puisi bukan hanya tentang kata-kata, melainkan tentang upaya menjaga kenangan, merawat cinta, dan mengabadikan rasa syukur kepada sosok yang selalu menjadi rumah pertama bagi setiap anak. (ad)

