Membangun Kelas yang Bermakna, MGMP Bahasa Inggris Bantul Dalami Three Basic Psychological Needs

Bantul (MAN 1 Bantul) – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris terus dilakukan oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris SMA/MA Kabupaten Bantul. Bekerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), MGMP Bahasa Inggris menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Pembelajaran Mendalam Berbasis Pemenuhan Three Basic Psychological Needs bagi Guru Bahasa Inggris SMA/MA di Kabupaten Bantul.”

Kegiatan pelatihan yang dilaksanakan pada hari Selasa (8/9/2026) ini menjadi ruang strategis bagi para guru Bahasa Inggris untuk memperkaya wawasan sekaligus merefleksikan praktik pembelajaran yang selama ini diterapkan di kelas. Tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, pembelajaran mendalam juga mendorong terciptanya suasana belajar yang mampu memenuhi kebutuhan psikologis peserta didik.

Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua MGMP Bahasa Inggris SMA/MA Kabupaten Bantul, Ismi Fajarsih, M.Pd. Dalam sambutannya, Ismi menekankan pentingnya kolaborasi dan pengembangan profesional guru untuk menghadapi dinamika pendidikan yang terus berkembang.

Menurutnya, guru Bahasa Inggris tidak cukup hanya menguasai materi dan metode pembelajaran. Guru juga perlu memahami bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang membuat peserta didik merasa memiliki pilihan, mampu, dan terhubung dengan lingkungan sosialnya.

Setelah sambutan ketua MGMP, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Tim UNY yang terdiri atas Prof. Basikin, S.Pd., M.Phil., M.Ed., Ph.D., Dr. Annisa Nurul Ilmi, M.Pd., dan Dr. Agatha Lisa, M.Hum.

Ketiga narasumber memberikan penguatan mengenai konsep pembelajaran mendalam yang dikaitkan dengan pemenuhan Three Basic Psychological Needs, yaitu autonomy (kemandirian), competence (kompetensi), dan relatedness (keterhubungan).

Ketiga kebutuhan tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Peserta didik diharapkan tidak hanya memahami materi Bahasa Inggris, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan dalam proses belajar, merasakan keberhasilan dan perkembangan kompetensinya, serta membangun hubungan positif dengan guru dan teman sebaya.

Pelatihan berlangsung secara interaktif. Para guru tidak hanya menerima paparan materi, tetapi juga diajak untuk berdiskusi, melakukan refleksi, dan menghubungkan konsep yang diperoleh dengan kondisi nyata di kelas. Dengan demikian, pelatihan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi diarahkan pada penerapan yang konkret dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Kolaborasi antara MGMP Bahasa Inggris SMA/MA Kabupaten Bantul dan UNY ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan sinergi antara komunitas guru dan perguruan tinggi. MGMP menjadi ruang berbagi praktik baik, sedangkan perguruan tinggi memberikan penguatan akademik dan perspektif baru yang relevan dengan perkembangan pendidikan.

Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., menyambut positif kegiatan pelatihan tersebut. Menurutnya, pengembangan kompetensi guru merupakan bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang berkualitas bagi peserta didik.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi MGMP dengan UNY yang memberikan kesempatan kepada para guru untuk terus belajar dan berkembang secara profesional.

“Kolaborasi seperti ini sangat penting karena guru membutuhkan ruang untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, dan merefleksikan praktik pembelajaran. Harapannya, hasil pelatihan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi benar-benar diterapkan di kelas sehingga memberikan dampak positif bagi peserta didik,” tambahnya.

Melalui kegiatan tersebut, MGMP Bahasa Inggris SMA/MA Kabupaten Bantul diharapkan semakin kuat sebagai komunitas belajar profesional bagi para guru. Sementara itu, kerja sama dengan UNY menjadi langkah nyata untuk membangun pembelajaran Bahasa Inggris yang lebih bermakna, mendalam, reflektif, dan berpusat pada kebutuhan peserta didik.

Pada akhirnya, pembelajaran mendalam bukan sekadar perubahan cara mengajar, tetapi sebuah ikhtiar untuk menghadirkan pengalaman belajar yang mampu membuat peserta didik merasa dihargai, berkembang, terhubung, dan memiliki peran dalam perjalanan belajarnya sendiri. (Sof)