Lestarikan Warisan Budaya: Kontingen MAN 1 Bantul Semarakkan Simfoni 1001 Pembatik di Malioboro

Yogyakarta (MAN 1 Bantul) — Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 2026 sekaligus menyemarakkan HUT ke-270 Kota Yogyakarta, kontingen MAN 1 Bantul turut ambil bagian dalam ajang membatik massal bertajuk “Simfoni 1001 Pembatik” yang digelar di sepanjang kawasan Malioboro pada Sabtu (3/10/2026).

Delegasi MAN 1 Bantul yang dipimpin oleh guru Prakarya, Sururin dan Tatik, memboyong 4 siswa perwakilan dari Kelas XI untuk membaur bersama sekitar 1.000 peserta lintas generasi. Mengusung motif khas Megamendung, para peserta tampak antusias menggoreskan canting sejak pukul 06.00 hingga 14.00 WIB, membentang dari Simpang Empat Batik Terang Bulan hingga kawasan Titik Nol Kilometer / Monumen SO 1 Maret.

Kegiatan kolosal yang diinisiasi oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) DIY ini bertujuan untuk memperkuat posisi Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia—sebagaimana telah ditetapkan oleh World Crafts Council sejak Oktober 2014—sekaligus menanamkan kecintaan dan rasa bangga generasi muda terhadap seni budaya adiluhung.

Di sela-sela kegiatan, Sururin dan Tatik menyampaikan bahwa keikutsertaan siswa dalam gelaran ini menjadi sarana belajar kontekstual yang sangat berharga. Tidak hanya mengasah keterampilan teknis membatik secara langsung di lapangan, para siswa juga diajak menyelami makna filosofis di balik motif Megamendung serta pentingnya menjaga kelestarian identitas budaya bangsa.

Menanggapi partisipasi aktif tersebut, Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Mafrudah menegaskan bahwa keterlibatan siswa dan guru dalam kegiatan edukatif tingkat regional ini selaras dengan nilai-nilai pelayanan prima yang diusung madrasah melalui nilai BERSINAAR (Bersih, Ramah, Simpatik, Integritas, Akuntabel, dan Anti Gratifikasi) dengan semangat Cadas Berkelas (Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan dan Anti Diskriminasi).

“Partisipasi MAN 1 Bantul dalam Simfoni 1001 Pembatik adalah wujud nyata komitmen BERSINAAR dalam membangun karakter peserta didik. Sikap ramah dan simpatik yang ditunjukkan siswa saat berinteraksi dengan masyarakat luas, dipadukan dengan integritas serta rasa tanggung jawab dalam melestarikan karya seni bangsa, menunjukkan bahwa pendidikan di madrasah tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga penanaman nilai moral dan budaya yang akuntabel,” tutur Mafrudah.

Melalui keikutsertaan ini, MAN 1 Bantul berharap semangat melestarikan warisan batik terus menyala di dada generasi muda, sekaligus memperkokoh peran madrasah dalam mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, berkarakter mulia, dan berakar kuat pada budaya bangsa. (ska)