Bantul (MAN 1 Bantul) — Kunjungan ke museum tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenal benda-benda peninggalan sejarah, tetapi juga mempelajari warisan budaya melalui pengalaman langsung. Hal tersebut dirasakan oleh tiga murid MAN 1 Bantul saat mengikuti praktik pembuatan makanan tradisional di Museum Bantul Masa Belanda pada Rabu (21/10/2026).
Ketiga murid kelas XI FD 4, yakni Alfina Dewi Nur Anggraeni, Nayla Chamalatus Sa`adah, dan Rezky Raisya Ali, mengikuti praktik pengolahan kuliner tradisional sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Wajib Kunjung Museum yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul. Kegiatan tersebut didampingi oleh guru Sejarah MAN 1 Bantul, Alfrida Restu Suhesti, S.Sej.
Dalam kegiatan praktik, murid diperkenalkan dengan proses pembuatan madumongso, salah satu makanan tradisional yang menjadi oleh-oleh khas Bantul. Pembelajaran dilakukan secara langsung, mulai dari mengaduk adonan bahan makanan, memasak hingga mencapai tekstur yang sesuai, membentuk hasil olahan, sampai proses pengemasan. Pengalaman ini memberikan gambaran bahwa pembuatan makanan tradisional membutuhkan ketelatenan, keterampilan, dan kesabaran.

Keberadaan praktik kuliner di Museum Bantul Masa Belanda berkaitan erat dengan pengembangan Desa Wisata Ngringinan, tempat museum tersebut berada. Kawasan ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah Bantul pada masa kolonial Belanda, tetapi juga mengembangkan potensi wisata budaya dan kuliner lokal. Pengenalan proses pembuatan madumongso menjadi salah satu bentuk pelestarian tradisi sekaligus upaya memperkenalkan produk khas daerah kepada pengunjung.
Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas pengalaman belajar yang diperoleh murid melalui kegiatan tersebut.
“Kegiatan seperti ini memberikan pengalaman belajar yang lengkap bagi murid. Tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah melalui kunjungan museum, tetapi juga mengenal kekayaan budaya daerah melalui praktik secara langsung. Kami berharap pengalaman ini dapat menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya lokal sekaligus kesadaran untuk ikut menjaga dan melestarikannya,” ungkap Mafrudah.
Melalui kegiatan ini, MAN 1 Bantul terus mendorong pembelajaran sejarah yang kontekstual dengan menghubungkan pengetahuan di kelas dengan kehidupan masyarakat. Praktik pembuatan kuliner tradisional juga menjadi pengalaman berharga dalam mengenalkan potensi budaya dan kearifan lokal kepada generasi muda, sejalan dengan semangat MAN 1 Bantul CADAS Berkelas. (ars)

