Bantul (MAN 1 Bantul) – Sebanyak 15 siswa kelas Fase E program keterampilan otomotif MAN 1 Bantul menunjukkan konsentrasi tinggi saat mengikuti praktik merangkai ruji (memasang jari-jari) dan menyetel velg (truing) di bengkel madrasah, Selasa (28/4/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pagi ini merupakan bagian dari kompetensi dasar sistem chassis sepeda motor.
Suasana bengkel tampak lebih khidmat dari biasanya. Para siswa duduk melingkar di depan meja kerja khusus velg, dengan penuh kehati-hatian memasukkan setiap ruji ke dalam lubang tromol, lalu menyetel ketegangan serta keseimbangan putaran velg menggunakan alat truing stand. Guru produktif otomotif berkeliling memberikan bimbingan dan koreksi secara individual.
Praktik merangkai ruji dan menyetel velg merupakan salah satu keterampilan menantang dalam dunia otomotif. Kegiatan ini menuntut ketelitian tinggi, kesabaran, serta pemahaman mendalam tentang keseimbangan roda. Satu velg sepeda motor umumnya terdiri dari 36 batang ruji yang harus dipasang dengan pola silang yang tepat dan ketegangan yang merata.
“Saya baru pertama kali mencoba merangkai dari nol. Awalnya bingung dengan pola silangnya karena arah ruji berbeda. Namun, setelah dibimbing guru dan mencoba perlahan, saya mulai paham. Tantangan terbesarnya adalah menyetel velg agar putarannya benar-benar lurus dan tidak oleng,” ujar salah satu siswa.
Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I, yang menyempatkan hadir di sela kesibukannya, memberikan apresiasi atas kesungguhan para siswa.
“Saya bangga melihat anak-anak begitu tekun dan sabar. Kegiatan ini bukan sekadar praktik teknis, tetapi juga pembelajaran karakter. Ketelitian, kesabaran, dan tanggung jawab adalah kunci. Ini sejalan dengan semangat MAN 1 Bantul sebagai madrasah CADAS BERKELAS: cerdas dalam berpikir, agamis dalam bersikap, serta berkarakter kuat dalam bekerja,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan praktik seperti ini juga menumbuhkan nilai demokratis dan kolaboratif, terlihat dari siswa yang saling membantu tanpa membeda-bedakan kemampuan.
“Di sini anak-anak belajar untuk saling menghargai, bekerja sama, dan tidak diskriminatif. Mereka juga dilatih adaptif terhadap tantangan dan perkembangan teknologi. Inilah wujud nyata dari siswa yang smart, cinta lingkungan melalui budaya kerja rapi dan efisien, serta memiliki karakter profesional,” imbuhnya.
Guru produktif otomotif menjelaskan bahwa praktik ini menjadi salah satu indikator pencapaian kompetensi dalam uji sertifikasi. Siswa dituntut mampu menyelesaikan satu velg dengan tingkat keruncingan (run out) maksimal 1–2 milimeter.
“Selain aspek teknis, kami juga menanamkan nilai ketekunan, kerja sama, dan tanggung jawab. Siswa yang sudah mahir bahkan membantu temannya. Ini mencerminkan sikap demokratis dan berkarakter,” jelasnya.
Kegiatan yang berlangsung hingga siang hari ini ditutup dengan evaluasi hasil kerja. Velg yang telah selesai diperiksa menggunakan dial gauge untuk memastikan tingkat kelurusan. Hasilnya, 12 dari 15 siswa berhasil mencapai standar ketuntasan, sementara tiga siswa lainnya diberi kesempatan untuk memperbaiki hasil pekerjaannya.
Melalui kegiatan ini, MAN 1 Bantul tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai CADAS BERKELAS sebagai fondasi menjadi lulusan yang kompeten, berintegritas, dan siap bersaing di dunia kerja. (faro)

