BANTUL (MAN 1 Bantul) – Dalam upaya memperkuat kompetensi pedagogik dan linguistik para pendidik, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Arab Madrasah Aliyah (MA) se-DIY menggelar pelatihan bertajuk “Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Imersi (Inghimas al-Lughah)”. Kegiatan ini berlangsung di Aula MAN 1 Bantul pada Selasa (12/5/2026).
Pelatihan tersebut menghadirkan pakar pembelajaran bahasa Arab sekaligus Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Tulus Musthofa, Lc., M.A., sebagai narasumber utama. Sebanyak 40 guru Bahasa Arab MA dari berbagai wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta turut mengikuti kegiatan tersebut.
Sebagai tuan rumah, MAN 1 Bantul mengirimkan tiga delegasi guru, yaitu Mukrimuddin, S.Ag., Choir Rosyidi, S.S., M.Pd.I., dan Adam Surya Nugroho, S.Hum., M.Pd.

Metode Imersi atau Al-Inghimas al-Lughah (الانغماس اللغوي) merupakan teknik pembelajaran yang mengondisikan siswa untuk terlibat secara penuh dalam lingkungan berbahasa Arab. Dalam metode ini, bahasa Arab tidak hanya dipelajari sebagai mata pelajaran, tetapi juga digunakan sebagai media utama komunikasi dan instruksi sehari-hari. Metode tersebut umum diterapkan di lingkungan pondok pesantren modern.
Kepala Tata Usaha MAN 1 Bantul, Martiningsih, S.Pd.I., saat mewakili Kepala Madrasah, menyampaikan apresiasi kepada pengurus MGMP Bahasa Arab MA se-DIY yang telah mempercayakan pelaksanaan kegiatan di MAN 1 Bantul. “Kami sangat mendukung kegiatan ini. Sebagai tuan rumah, kami berharap ilmu yang diperoleh para peserta, khususnya guru-guru MAN 1 Bantul, dapat langsung diimplementasikan dalam pembelajaran di kelas. Metode imersi ini menjadi salah satu kunci agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu berkomunikasi aktif menggunakan bahasa Arab,” ujarnya.
Ketua MGMP Bahasa Arab MA se-DIY yang juga merupakan guru Bahasa Arab MAN 1 Bantul menyampaikan rasa syukur atas antusiasme peserta dalam mengikuti pelatihan tersebut. “Tujuan pelatihan ini adalah menyegarkan kembali metodologi pengajaran Bahasa Arab di madrasah. Kami ingin mengubah stigma bahwa bahasa Arab adalah pelajaran yang sulit. Dengan metode imersi yang tepat, madrasah dapat menciptakan atmosfer belajar yang aktif dan menyenangkan,” jelasnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Tulus Musthofa, Lc., M.A., menekankan pentingnya penerapan metode imersi secara konsisten dalam pembelajaran Bahasa Arab. “Guru adalah desainer lingkungan belajar. Dalam metode imersi, guru bukan hanya menjelaskan tata bahasa atau qawaid, tetapi juga menciptakan ekosistem kelas yang hidup dengan bahasa Arab. Kuncinya adalah konsistensi dan keberanian memulai dari hal-hal sederhana di sekitar siswa,” terangnya.
Salah satu peserta dari MAN 1 Bantul, Adam Surya Nugroho, S.Hum., M.Pd., mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut. “Pelatihan ini memberikan pemahaman baru bagi kami. Menerapkan metode imersi di madrasah tentu memiliki tantangan tersendiri dibandingkan di pesantren. Namun, melalui teknik-teknik yang dipaparkan Prof. Tulus, kami optimis dapat membangun budaya berbahasa Arab yang lebih interaktif dan menyenangkan bagi siswa,” ungkapnya.
Kegiatan diakhiri dengan sesi simulasi pembelajaran berbasis imersi. Para peserta mempraktikkan secara langsung cara memberikan instruksi kelas tanpa menggunakan bahasa Indonesia. Kegiatan ini sejalan dengan tagline MAN 1 Bantul yang terus disosialisasikan, yaitu CADAS BERKELAS (Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi). (chr)

