BANTUL (MAN 1 Bantul) – Dalam upaya meningkatkan profesionalisme dan membangun citra institusi yang solid, MAN 1 Bantul baru-baru ini merilis kebijakan baru mengenai standardisasi seragam yang wajib dikenakan oleh Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) setiap harinya. Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk memperkuat disiplin, kesetaraan, dan wibawa pendidik di lingkungan madrasah.
Terpantau di lapangan pada Jumat (12/6/2026), suasana madrasah tampak dinamis namun tetap formal. Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, aturan seragam untuk hari Jumat adalah bebas rapi. Para guru pria terlihat mengenakan kemeja polos atau batik yang bersahaja, sementara para guru wanita (ibu-ibu) tampil anggun dengan jilbab yang warnanya disesuaikan secara serasi.
Penerapan seragam harian bagi GTK ini ternyata membawa dampak psikologis yang sangat nyata dan positif bagi para siswa. Kehadiran guru yang berseragam secara konsisten mampu memenuhi tiga hal penting. Pertama, menciptakan citra figur otoritas yang profesional: membantu siswa melihat guru sebagai sosok penegak disiplin yang kompeten dan kredibel. Kedua, menghilangkan kecemburuan sosial: meminimalisir gap sosial yang mungkin timbul dari cara berpakaian. Ketiga, memudahkan identifikasi: Membantu siswa dan tamu madrasah mengenali personel madrasah dengan cepat.
Sama halnya dengan seragam yang dikenakan oleh siswa, seragam guru ini mengajarkan nilai kesetaraan dan solidaritas. Lewat kebijakan ini, siswa diajak melihat bahwa guru mereka berdedikasi penuh pada fungsi utamanya sebagai pendidik, bukan pada status sosial ekonomi atau gaya hidup mewah.
Kebijakan positif ini mendapat dukungan penuh dari berbagai lini di MAN 1 Bantul, mulai dari jajaran pimpinan hingga guru di lapangan.
Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag, M.Pd.I, berharap Guru dan Tenaga Kendidikan mengikuti aturan berseragam seperti yang telah disepakati Bersama.
“Penerapan seragam ini bukan sekadar aturan formalitas, melainkan cerminan dari kesiapan mental kita sebagai pelayan masyarakat di bidang pendidikan. Dengan berseragam, kita membangun branding institusi yang kuat dan menanamkan nilai keteladanan secara langsung kepada siswa. Kami ingin menunjukkan bahwa di madrasah ini, fokus utama kita adalah prestasi dan pengabdian.” ujar Mafrudah.
Kepala Tata Usaha MAN 1 Bantul, Martiningsih, S.Pd.I. mendukung penuh aturan seragam tersebut.
“Dari sisi administrasi dan pelayanan, kebijakan ini sangat membantu menciptakan lingkungan kerja yang rapi dan terstruktur. Seragam harian memberikan identitas yang jelas bagi seluruh tenaga kependidikan, sehingga koordinasi internal maupun pelayanan terhadap wali murid dan pihak luar menjadi jauh lebih profesional dan solid.” ugkap Martiningsih.
Guru Senior, Lina Mutiasih, M.Pd. juga meberikan tanggapan yang serupa.
“Kami menyambut baik kebijakan seragam ini. Mengajar jadi terasa lebih fokus karena ada semangat kebersamaan yang setara di ruang guru. Pilihan baju untuk hari tertentu seperti hari Jumat yang bebas rapi—baik kemeja maupun batik—juga memberikan ruang bagi kami untuk tetap nyaman dan fleksibel tanpa kehilangan esensi kerapian seorang pendidik.” katanya.
Melalui kebijakan seragam harian ini, MAN 1 Bantul kembali membuktikan komitmennya sebagai madrasah yang tidak hanya fokus pada capaian akademik siswa, tetapi juga pada pembentukan karakter dan profesionalisme seluruh ekosistem pendidikannya. Hal ini tentunya sejalan dengan tagline MAN 1 Bantul yang sedang gencar disosialisasikan: CADAS BERKELAS (Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi). (chr).

