Bantul (MAN 1 Bantul) – Nuansa budaya Yogyakarta terasa kental di kelas XI FD4 MAN 1 Bantul pada Kamis Pon. Para murid dan guru pegawai mengenakan busana adat daerah gagrak Yogyakarta sebagai wujud nyata semangat nguri-uri budaya Ngayogyakarta sekaligus menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa di tengah generasi muda. Kamis (23/07/2026).
Suasana khas Kamis Pon semakin bermakna ketika siswa kelas XI FD4 mengikuti pembelajaran Pendidikan Pancasila pada jam pertama dengan penuh khusyuk. Mengenakan busana adat, para siswa tampak tertib, antusias, dan fokus memperhatikan penjelasan guru Pendidikan Pancasila, Agustin Budihayati Putri, S.Pd.
Pada pembelajaran tersebut, Agustin mengajak siswa mendalami materi tentang keterkaitan antarsila Pancasila. Siswa diajak memahami bahwa kelima sila Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling berkaitan. Nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
“Pembelajaran Pendidikan Pancasila tidak hanya berhenti pada pemahaman konsep, tetapi bagaimana siswa mampu menghayati dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ketika siswa mengenakan busana adat dan tetap belajar dengan penuh kesungguhan, di situlah nilai budaya dan karakter kebangsaan dapat tumbuh bersama,” jelas Agustin.
Kegiatan Kamis Pon tersebut menjadi gambaran bahwa pembelajaran di madrasah dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya. Busana adat bukan sekadar pakaian, tetapi menjadi simbol identitas, penghormatan terhadap budaya lokal, sekaligus sarana edukasi untuk mengenalkan dan menjaga warisan budaya Yogyakarta agar tetap hidup di kalangan generasi muda.
Kepala MAN 1 Bantul, Hj. Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., mengapresiasi suasana pembelajaran yang memadukan budaya lokal dengan penguatan nilai-nilai Pancasila.
“Nguri-uri budaya merupakan bagian dari upaya membentuk karakter peserta didik. Kami berharap anak-anak tidak hanya mengenal budaya daerahnya, tetapi juga mampu menghargai keberagaman budaya Indonesia. Ketika nilai budaya bertemu dengan pembelajaran Pancasila, akan lahir generasi yang memiliki identitas kuat, berkarakter, dan tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” tutur Hj. Mafrudah.
Menurutnya, kegiatan Kamis Pon juga selaras dengan semangat MAN 1 Bantul, Cadas Berkelas, yang merupakan akronim dari Cerdas, Agamis, Demokratis, Adaptif, Smart, Berkarakter, Cinta Lingkungan, dan Anti Diskriminasi. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar tercermin dalam keseharian warga madrasah.
Suasana khusyuk siswa XI FD4 dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Pancasila menunjukkan sisi Cerdas dan Berkarakter. Penggunaan busana adat gagrak Yogyakarta menjadi bentuk kecintaan terhadap budaya sekaligus wujud karakter yang menghargai identitas bangsa. Sementara itu, pembelajaran tentang keterkaitan antarsila Pancasila menjadi penguatan nilai Agamis, Demokratis, Adaptif, serta semangat hidup bersama yang Anti Diskriminasi.
Dari ruang kelas XI FD4, Kamis Pon menjadi lebih dari sekadar agenda mengenakan busana adat. Ia menjelma menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan budaya, karakter, dan nilai-nilai Pancasila. Sebuah langkah kecil untuk menjaga budaya Ngayogyakarta sekaligus menyiapkan generasi muda MAN 1 Bantul agar tetap Cadas Berkelas: berakar kuat pada budaya, berpegang teguh pada Pancasila, dan siap menghadapi masa depan.(agoes)

