Bantul (MAN 1 Bantul) – Suasana kajian keputrian di MAN 1 Bantul berlangsung hangat dan penuh antusias. Menghadirkan Wahyu dari KUA Bantul, kegiatan tersebut mengajak peserta didik putri memahami makna syukur dengan cara yang komunikatif dan menyenangkan.
Antusiasme para siswi terlihat sejak kegiatan dimulai. Peserta mengikuti penyampaian materi dengan perhatian, sekaligus aktif merespons berbagai pertanyaan dan aktivitas yang diberikan oleh narasumber. Agar suasana semakin cair, kegiatan juga diselingi dengan ice breaking yang membuat para peserta lebih rileks dan bersemangat mengikuti kajian.
Ice breaking menjadi bagian menarik dalam kegiatan karena memberikan kesempatan kepada para siswi untuk berinteraksi dan membangun suasana kebersamaan. Setelah suasana lebih cair, Wahyu kembali mengajak peserta untuk merefleksikan berbagai nikmat yang selama ini mereka terima dan bagaimana cara mensyukurinya.
Menurut Wahyu, rasa syukur dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menghargai orang tua, bersungguh-sungguh dalam belajar, menjaga kesehatan, membantu sesama, dan menggunakan waktu dengan baik merupakan bentuk syukur yang dapat dilakukan oleh para pelajar.
Kepala MAN 1 Bantul, Mafrudah, S.Ag., M.Pd.I., memberikan apresiasi terhadap antusiasme para siswi. Ia menilai metode penyampaian yang interaktif dapat membantu peserta didik lebih mudah menerima dan memahami pesan yang disampaikan.
“Kegiatan keputrian hendaknya menjadi ruang belajar yang menyenangkan. Ketika anak-anak antusias, aktif, dan berani berinteraksi, nilai-nilai yang disampaikan akan lebih mudah mereka pahami. Yang terpenting, setelah kegiatan ini mereka dapat membawa nilai syukur tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Mafrudah.
Kegiatan kajian yang dikemas dengan suasana interaktif tersebut mencerminkan semangat CADAS BERKELAS MAN 1 Bantul. Nilai Cerdas, Agamis, Adaptif, Smart, dan Berkarakter hadir melalui proses pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan, nilai keagamaan, interaksi, serta penguatan karakter peserta didik.
Melalui kajian yang hangat dan komunikatif, para siswi tidak hanya mendapatkan materi keagamaan, tetapi juga pengalaman belajar yang menyenangkan. Dari suasana penuh canda dalam ice breaking, kegiatan kemudian diarahkan pada refleksi mendalam tentang bagaimana menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur. (wnd)

